Generasi Qur’ani, Apa dan Mengapa?

8431

Agama Islam hadir di tengah hegemoni 2 kekuatan adidaya yang ada pada saat itu. Di sebelah timur, Persia melintang sedemikian luas hingga Sungai Tigris. Sedangkan di bagian barat, ada Romawi yang menguasai daratan Eropa hingga Laut Adriatik. Keduanya sama-sama terlibat dalam persaingan untuk menentukan pengaruh dan kebudayaan mana yang lebih kuat satu dengan lainnya.

Agama Islam juga lahir di tengah-tengah masyarakat yang ketika itu dianggap terbelakang dalam hal pengetahuan dan moral. Mereka gemar berperang antar sesama suku, buta huruf, tenggelam dalam ritual-ritual animisme-dinamisme, serta berada dalam degradasi moral yang begitu parah. Itu yang menyebabkan mengapa ketika itu jazirah Arab sama sekali tak dianggap sebagai ancaman, baik Persia maupun Romawi.

Nah, di zaman dengan kondisi semacam itulah agama Islam diturunkan kepada junjungan kita, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, Micheal H. Hart –seorang sejarawan ternama dunia barat, guru besar bidang fisika dan astronomi di salah satu perguruan tinggi Maryland, USA– menggambarkan kota Mekkah pada saat itu dalam buku fenomenalnya berjudul “The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History,” (Seratus Ranking Orang-orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah) sebagai “suatu daerah yang terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan”.

Lantas, pertanyaan besar yang pantas kita ajukan ialah, mengapa kebudayaan Islam yang bermula dari sebuah daerah ‘terlupakan’ mampu berkembang bahkan terus membesar hingga mengalahkan 2 kekuatan adidaya yang telah ada sebelumnya? Kita tentu ingat, betapa Islam telah bertahan 1400 tahun lebih, dan sama sekali tak berhenti untuk menyebar ke seluruh dunia. Berbanding terbalik dengan kerajaan Persia yang hancur luluh lantah di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, beserta Romawi Timur yang genap ditaklukkan oleh Muhammad Al Fatih pada saat pembukaan Konstantinopel.

Kenapa bisa demikian? Apa yang lantas membedakan pihak satu dengan pihak lainnya? Apa yang mengubah mental masyarakat penyembah berhala menjadi kaum penakluk yang tak mengenal rasa takut kecuali kepada Rabbnya?

Di situlah letak kepiawaian sosok Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berada. Beliau sukses mengorganisir generasi baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Generasi terbaik yang pernah dimiliki umat manusia. Generasi yang mengesakan Allah, mengimani hari kebangkitan, dan membenarkan risalah para Nabi terdahulu. Generasi yang dinamakan sebagai Generasi Qur’ani.

Definisi Generasi Qur’ani

Kata “Generasi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti: “Turunan, angkatan, atau sekelompok orang yang mengalami hidup dalam masa yang sama, sekelompok masyarakat yang mengalami sejarah pada zaman yang sama.” Sedangkan kata “Qur’ani” diambil dari kitab al-Quran, yakni kumpulan wahyu Allah kepada Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril, yang disusun dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir dari generasi ke generasi berikutnya, dan berpahala bagi yang membacanya. Merupakan kitab suci umat Islam, berisi petunjuk-petunjuk Allah untuk mereka dan dijadikan ajaran pokok dalam hidup beragama mereka, serta diyakini akan mengahntarkan kepada kebehagiaan dunia dan akhirat.

Jadi “Generasi Qur’ani” adalah generasi yang menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka, meyakini kebenaran al-Quran, membaca dan memamahinya dengan benar dan baik, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Generasi itulah yang menjadi idaman bagi umat Islam kapan dan di mana pun mereka hidup dan berada.

Generasi Qur’ani di zaman Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi yang mengambil al-Qur’an sebagai sumber utama kehidupannya. Sekaligus juga menjadi ukuran dan dasar berpikir mereka. Padahal bukan berarti ketika itu manusia tidak memiliki peradaban di bidang pengetahuan dan kebudayaan sama sekali. Tidak. Malah justru di waktu itu peradaban Romawi beserta Persia sedang berada dalam masa-masa puncak kejayaannya.

Akan tetapi, mengapa lantas Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam membatasi genarasi pertama ini dari segala peradaban dan pemikiran yang telah ada pada waktu itu, padahal telah sedemikian maju? Itu karena beliau ingin membentuk generasi baru yang benar-benar hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Tidak terkontaminasi sama sekali dengan pola pikir bangsa Romawi yang merupakan induk dari budaya materialisme. Juga bersih dari pengaruh budaya-budaya paganisme lainnya di sekitar jazirah Arab, seperti Persia, India, Yunani, serta Cina. Mustahil Islam dapat menjelma menjadi sebuah peradaban baru –dalam artian benar-benar lepas dari pengaruh kebudayaan lainnya– tanpa adanya sebuah manhaj baru yang mampu membebaskan umat manusia dari segala bentuk penghambaan terhadap sesama makhluk. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam hendak membangun generasi yang dapat menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia, dan itu berlandaskan dengan nilai-nilai kemuliaan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dan itu semua sejarah yang membuktikannya. Betapa generasi hasil didikan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam tetap mampu melanjutkan estafet dakwah sesudah wafatnya beliau, menjelma menjadi mercusuar-mercusuar inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya. Peradaban Islam yang pertama kali dimotori oleh generasi para sahabat  ini mampu membentangkan sayap dakwah, mulai dari Andalusia, Maghribi, Mesir, Asia Tengah, hingga India. Semua berada dalam satu pemerintahan Islam, satu kejayaan yang jauh lebih besar dibanding 2 peradaban pendahulunya, Romawi maupun Persia.

Umat Muslim Hari Ini

Bak rollercoster, umat Islam yang dulunya berada di atas puncak kejayaan, kini ternyata sedang berada dalam titik nadir. Masa-masa keemasan yang dulunya menghiasi lembaran-lembaran sejarah umat manusia, sekarang hanya menjadi nolstalgia manis pengisi kenangan umat muslim. Apa gerangan?

Boleh jadi salah satu penyebab utama persoalan di atas ialah kian menjauhnya umat dari nilai-nilai yang dikandung Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tercatat, semenjak keruntuhan Khilafah Islamiyah di Turki pada tahun 1924, musuh-musuh Islam semakin gencar mengembuskan paham-paham duniawi kepada umat muslim. Materialisme, sekularisme, liberalisme, hingga komunisme hanyalah sekelumit contoh kecil dari fenomena gunung es yang selama ini tepat terjadi di depan mata kita. Dan bukannya menangkal semua itu, mayoritas umat muslim malah dengan ‘senang hati’ menyambut ajakan tersebut. Berkedok modernitas, mereka tanpa sadar telah sengaja digiring agar menjauhi Al-Qur’an, dan perlahan membentuk pola pikir “cinta dunia dan takut mati”.

Padahal menilik sejarah permulaan Islam di atas, kejayaan umat ini tidak akan pernah tercapai kecuali dengan memahami dan mengamalkan Al-Qur’an secara totalitas dalam keseharian kita, persis sebagaimana tindak-tanduk generasi sahabat hasil didikan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dahulu. Kita tidak akan pernah menjadi bagian dari masa-masa keemasan Islam yang akan datang, kecuali bila kita menyingkirkan semua pemikiran-pemikiran non-Islam dari hati dan benak kita. Dan tentu, kita tidak akan pernah menyamai –atau setidaknya mendekati– derajat kemuliaan para sahabat kecuali bila kita melakukan hal yang sama dengan mereka: mengambil Al-Qur’an dan melupakan bisikan-bisikan musuh-musuh Islam.

Demikianlah. Telah terbentang di hadapan kita suri tauladan dari sejarah agung para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka telah membuktikan betapa metode pendidikan Al Qu’ran ala Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam telah mengubah mereka dari masyarakat jahiliyah menjadi bangsa dengan peradaban terbesar sepanjang sejrah umat manusia. Akankah kita mengikuti jejak-jejak mereka dan mengulangi prestasi mereka, atau malah sebaliknya? Pilihan ada di tangan Anda.

Wallahu ‘alam bis Showab.

Daftar Pustaka:

  1. Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia
  2. Micheal H. Heart, The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History
  3. Qasim A. Ibrahim dan Muhammad Saleh, Buku Pintar Sejarah Islam
  4. Felix Siauw, Khilafah*: Remake

Ditulis oleh Chairul Sinaga, Santri kelas 3 MATIQ Isy Karima

SHARE