Definisi Bahagia

582

Hari ini, begitu banyak manusia berlomba mendefinisikan kebahagiaan. Sama gencarnya dengan pencarian kebahagiaan itu sendiri. Bahagia adalah kata paling menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya, akal mengharapinya, raga mengejarnya, tulis Ustadz Salim A. Fillah.

Lantas apakah definisi bahagia?

Coba tanyakan definisi bahagia pada seorang paruh baya yang bertahun-tahun berjuang menghafal Al-Qur’an kemudian dikaruniai kesempatan menyetorkan hafalan terakhirnya di usia senja.

Juga tanyakan pada ibu muda lulusan S2 universitas ternama yang memilih menjadi fulltime mother bagi buah hatinya. Mengabaikan tawaran kerja perusahaan bonafit dengan bayaran delapan digit rupiah perbulannya.

Atau pada seorang pejabat teras pemilik aset bernilai triliunan. Yang setiap malam tidurnya tidak nyenyak meski hidupnya bergelimang harta, membayangkan hartanya kelak diaudit KPK.

Sampai kapanpun definisi bahagia selalu relatif.  Semua orang memiliki definisi yang mereka reka-reka sendiri, mulai dari yang sederhana hingga sulit dimengerti. Mulai dari alasan materi, jasmani hingga rohani.

Tapi apakah benar tidak ada kebahagiaan absolut? Kebahagiaan yang dapat dirasakan semua makhluk. Kebahagiaan universal, bukan relativitas. Kebahagiaan yang pasti kita semua sepakati, itulah bahagia.

Mari sejenak kita menengok kebelakang, pada abad ketiga belas Masehi tepat di masa kejayaan khilafah Abbasiyah. Dimana hiduplah seorang ‘alim, hafizh, zahid,  bahkan bergelar Syaikhul Islam, yakni Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Murid beliau, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’aala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, sangat jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penyiksaan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya. Paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya.

Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid beliau), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pun sering mengatakan berulang kali pada Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”

Beliau pernah mengatakan, “Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.”

Kemudian murid beliau Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang ketika bermunajat pada-Nya. Menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa tawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.”

Lantas masihkah kita mendefinisikan bahagia dengan perasaan cinta berlebihan kepada makhluk? Atau rasa memiliki terhadap titipan-Nya?

Semoga Allah jadikan kebahagiaan kita kebahagiaan yang sama, kebahagian Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah hingga kita kelak dapat berkumpul dengan beliau beserta orang-orang shalih di jannah-Nya.

Ditulis oleh Umi Citrayani, Mahasiswi STIQ Isy Karima

SHARE