Halal Itu Penting

578

Produk halal bagi seorang Muslim adalah sebuah keniscayaan. Wajib hukumnya bagi seorang Muslim memperhatikan kehalalan makananannya, minumannya maupun pakaiannya. Tak salah rasanya jikalau Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk mengkonsumsi yang halal dan menjauhi yang haram. Karena halal adalah syarat diterimanya doa.

Tesresbutlah kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Abi Waqash yang dengan gigihnya menahan kantuk dan dinginnya malam untuk menjaga Rasulullah? Sang pemanah ulung ini dengan sigap mengajukan dirinya tatkala Nabi bertanya “Adakah kiranya lelaki shalih yang malam ini bersedia menjaga kami?”. Kemudian di saat Sa’ad menyiapkan air wudhu untuk Rasulullah, dengan bijak bestari Nabi bertanya, “Wahai Sa’ad mintalah sesuatu padaku. Aku akan memintakannya kepada Allah untukmu”. Dengan santun pemanah yang dalam 100 bidikan tidak pernah meleset ini berkata, “Ya Rasulullah, mohonkan kepada Allah agar doaku mustajab.” Seraya tersenyum, Rasulullah menjawab, “Wahai Sa’ad, baikanlah makananmu (pilihlah makanan yang halal), niscaya doamu mustajab.”

Rasulullah pun melanjutkan, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Sesungguhnya orang yang di rongganya terdapat satu genggam barang haram, tidak akan diterima amalannya selama empat puluh hari. Dan barangsiapa yang daging tubuhnya tumbuh dari barang haram, nerakalah tempat terlayak baginya.”

Itulah mengapa wajib hukumnya bagi kita memperhatikan kehalalan makanan maupun minuman yang kita konsumsi. Ada lagi sebuah kisah yang Rasulullah ceritakan kepada para sahabatnya saat beliau membacakan surat al-Mu’minun ayat 51 dan al-Baqarah ayat 168. Ceritanya ada seorang musafir yang menempuh perjalanan jauh hingga rambutnya kusut dan kotor. Ia tersesat dalam teriknya padang pasir dalam keadaan berpuasa. Bekal yang ia bawa habis dicuri temannya. Kemudian ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa ”Ya Rabb… Ya Rabb…!”. “Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia kenyang dengan barang haram…”, ucap Rasul. “Lantas bagaimana mungkin doanya akan diijabah…”, lanjut beliau (hadits ini diriwayatkan oleh Muslim).

Jika kita cermati orang yang diceritakan Rasulullah ini harusnya termasuk orang yang doanya mustajab. Bagaimana tidak, ia adalah seorang musafir yang sedang berpuasa dan dizalimi, berdoa seraya mengangkat tangannya. Tapi sayang, hal-hal haram yang melekat ditubuhnya menghalangi doa yang ia haturkan diijabah Allah.

Agaknya orang-orang kafir mafhum bahwa ‘halal’ sangatlah penting bagi umat Islam. Orang-orang kafir sepertinya paham betul bahwa halal adalah sebab diterimnya doa seorang Muslim. Oleh karena itu, mereka dengan gigih berupaya mendekatkan umat Islam dengan barang haram. Ditawari daging babi, anjing, darah, bangkai, ataupun khamr tentu umat Islam tidak akan mempan. Karena setiap Muslim sudah mafhum apa-apa saja yang halal dan mana saja yang haram. Terlebih Allah sudah menyebutkannya dengan gamblang dalam surat al-Maidah ayat 3. Oleh karenanya mereka menggunakan siasat lain dengan mengkombinasikan yang haram dengan yang halal. Bukankah akan menjadi perpaduan yang sempurna? Dengan begini hal yang haram tidak akan terdeteksi dan tertutupi dengan hal yang halal.

Tenang kawan, masyarakat Indonesia kan mayoritas Muslim. Sayangnya kondisi ini belum bisa menjamin penduduk Indonesia bebas dari mengonsumsi sesuatu yang tak mengandung babi. Karena belum semua produk makanan ataupun minuman di Indonesia berlabel halal. Makanan kemasan mungkin masih bisa diatasi dengan diberi label halal. Tapi makanan siap saji seperti siomay, pizza, kue tart, donat, mie ayam, bakpao maupun bakso memang bisa diberi label halal? Hei… bukankah makanan seperti ini sudah pasti kehalalannya? Eits… siapa bilang? Kita tidak tahu kalau ternyata salah satu bahan yang digunakan ternyata haram atau terkontaminasi sesuatu yang haram. Ada juga beberapa cake ataupun kue yang ternyata mengandung rum yang ternyata sama dengan khamr. Belum lagi dalam hal mu’amalah. Tanpa sadar umat Islam terjerumus ke dalam mua’amalah ribawi. Dan otomatis mempengaruhi harta yang ia miliki, sehingga bercampur antara yang halal dan haram.

Orang-orang kafir akan selalu berusaha membiasakan umat Islam dengan barang haram agar doanya tidak diijabah. Karena mereka tau bahwa doa adalah senjata ampuhnya Umat Islam. Buktinya dengan doa, Rasulullah dan pasukannya bisa menang dalam perang Badr meskipun hanya membawa 300-an pasukan. Disodori barang haram, Muslim mana mau? Makanya mereka menyiasatinya dengan mencampurkan barang haram itu dengan barang halal. Atau mengganti sebutannya, misalnya khamr diganti menjadi wine atau rum.

Disadari atau tidak, ternyata hal-hal haram ada di sekeliling kita. Bahkan mungkin bersemayam dalam perut kita. Sayangnya hal ini sulit dielakkan di tengah zaman yang semakin maju ini. Oleh karena itu kita perlu mencermati makanan, minuman, kosmetik, pakaian atau apapun yang kita konsumsi dan kita kenakan. Jadi orang pilih-pilih tidak jadi masalah bukan untuk memastikan yang kita konsumsi hanya yang halal. Yang terpenting jangan lupa baca bismillah sebelum makan dan minum. Ditambah bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi sya’un fil ardhi wa laa fii samaa.

Wallahu ta’ala a’lam

 

SHARE