Hafizh Lampu Merah

497

Setiap Muslim memimpikan untuk hidup bersama Al-Qur’an. Mengingat banyak sekali keutamaan yang didapatkan bagi orang yang hidup bersama Al-Qur’an. Orang-orang yang senantiasa mempelajari, membaca, menghafalkan, dan mengamalkan Al-Qur’an dinobatkan sebagai keluarga Allah. Para keluarga Allah ini memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya. Tak heran jika predikat manusia terbaik ini disematkan kepada mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Setiap orang sebenarnya memilki kemampuan untuk menghafal Qur’an. Karena sejatinya Al-Qur’an telah terprogram dalam otak setiap kita. Akan tetapi hanya hamba yang mendapatkan taufik dari Allah yang bisa menjernihkan otaknya dan mampu membuka program ini lalu mengunduhnya dalam kehidupan nyata melalui berbagai sarana.

Tidak harus menjadi orang pintar dengan IQ tinggi untuk bisa menghafal Qur’an. Siapapun bisa menghafalnya, karena Allah telah menggaransi bahwa Al-Qur’an mudah dihafal. Allah bahkan menggaransi hal itu sebanyak empat kali dalam surat Al-Qamar. Sesungguhnya Kami telah memudahkan al-Qur’an untuk diingat, maka adakah yang mau mengambil pelajaran? Berbekal tekad yang kuat dan usaha yang maksimal, dengan izin Allah cita-cita menjadi hamalatul Qur’an bisa tercapai. Satu-satunya kesulitan terberat dalam menghafal Al-Qur’an adalah ketika seseorang tidak memiliki tekad dan keinginan yang kuat.

Aktivitas yang padat dan kesibukkan ternyata tidak menghalangi seseorang untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Banyak orang-orang sibuk dari berbagai profesi memiliki tekad yang tinggi untuk bisa menjadi keluarga Allah nan mulia ini. Pekerjaan yang mereka lakukan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi agung untuk menjadi sebaik-baik manusia. Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa menjadi penghafal Al-Qur’an. Sekalipun harus menghafal di tengah padatnya lalu lintas menunggu lampu merah.

Kebanyakan orang ketika menanti lampu merah di jalan biasanya hanya dimanfaatkan untuk melihat-lihat mobil yang ada di depan atau kanan kirinya. Ada yang menunggu lampu hijau sambil melamun, bahkan mungkin ada yang menyikapinya dengan menggerutu, mencaci maki, atau kejengkelan lainnya karena perjalanannya terhambat. Sebenarnya, kondisi yang pada umumnya menjadikan banyak orang merasa jengkel ini dapat diubah menjadi sebuah berkah. Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh Syeikh Yahya bin Abdurrazaq al-Ghautsaniy yang menghafalkan matan Alfiyah Ibnu Malik (matan bahasa Arab) dan Syeikh ‘Abdul Fatah al-Marsofii yang berhasil menyelesaikan hafalan matan ath-Thoyyibah (matan Qiraah Asyroh) selama perjalanan.

Ada sebuah kisah seorang pemuda yang berhasil menghafalkan surat Al-Baqarah saat menanti lampu merah di persimpangan jalan. Pemuda ini sengaja menyimpan mushaf di mobilnya. Ketika lampu merah menyala, ia mencuri waktu untuk membuka mushaf. Yang ia lakukan bukan hanya sekedar membaca mushaf itu. Ia mencoba menghafalkan satu dua baris ayat Al-Qur’an. Bahkan ia berhasil menyelesaikan hafalan surat Al-Baqarah sepenuhnya di tengah lampu merah yang bagi banyak orang dianggap sebagai waktu menjengkelkan. Subhanallah…

Ada metode khusus yang bisa dilakukan bagi yang berminat menghafal selagi menunggu lampu merah. Metode ini disebutkan dalam kitab Kaifa Tahfazhul Qur’an Al-Kariim (Bagaimana Cara Menghafal Al-Qur’an Al-Karim) karya Dr. Yahya bin Abdurrozaq Al-Ghautsaniy.

Adapun metodenya, Anda dapat mengkopi lembaran mushaf yang hendak dihafal. Letakkan foto kopian mushaf tadi di depan mobil dan usahakan tidak mengganggu pemandangan Anda ketika menyetir. Ketika hendak berangkat ke kantor ataupun aktivitas lainnya di pagi hari, bacalah ayat pertama pada lembaran mushaf yang difoto kopi tadi. Ulangi bacaan tadi selama perjalanan.

Kemudian ketika Anda merasa bahwa ayat tadi sudah mudah dihafal, ulangi bacaan ayat tadi tanpa melihat mushaf. Saat berhenti di lampu merah, baca ayat selanjutnya berulang-ulang. Ketika sudah berganti dengan lampu hijau, ulangi ayat tadi tanpa melihat mushaf dan mulailah menghafal ayat tersebut.

Yang perlu diperhatikan dalam menerapkan metode ini adalah penjagaan terhadap lembaran mushaf yang difoto kopi tadi. Simpan foto kopian lembaran mushaf tadi setelah dihafal, bisa jadi sewaktu-waktu Anda masih membutuhkan lembaran itu. Akan lebih baik bila lembaran-lembaran mushaf tadi dilaminating supaya lebih terjaga dan lebih rapi. Jangan meletakkan lembaran tadi sembarangan, karena lembaran itu berisi kalamullah yang harus kita agungkan.

Metode ini bisa juga diterapkan bagi orang-orang yang berpergian dengan kendaraan umum. Bagi Anda yang berkendaraan umum atau yang tidak duduk di belakang kemudi, sangat memungkinkan untuk mempraktekkan metode ini. Syeikh Abdul Karim Al-Yamani, seorang penggiat Tahfizhul Qur’an dari Hay’ah Litahfizhil Qur’anil Karim (Lembaga Internasional untuk Tahfizhul Qur’anil Kariim), mengatakan bahwa sangat memungkinkan untuk menghafal Qur’an saat lampu merah di Indonesia, terutama kota besar seperti Jakarta. Banyaknya lampu merah dan seringnya macet memungkinkan seseorang untuk menghafal Qur’an selama perjalanan.

Syeikh Suud Suraim, seorang Imam Masjidil Haram yang hafalannya sangat mutqin ternyata juga memanfaatkan lampu merah untuk menghafal Al-Qur’an. Beliau menyelesaikan hafalan surat an-Nisaa di lampu merah. Subhanallah…

Nah.. daraipada melamun tidak jelas atau malah marah-marah, lebih baik kita manfaatkan waktu menunggu lampu merah dengan hal bermanfaat dan berbarakah. Bisa menghafal Qur’an, membaca kitab, ataupun berzikir.

Wallahu a’lam bishowab

SHARE