Perniagaan Tiada Merugi

361

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”  (QS. Fathir: 29)

Sukses, untung, berhasil, atau apapun istilahnya, kata-kata itu selalu ada di otak manusia yang waras. Hidup ini adalah ajang mengejar impian tersebut. Semua sepakat bahwa jalan untuk meniscayakannya adalah dengan bekerja keras dan bekerja cerdas. Tetapi sukses sejati tidak lengkap dengan itu saja. Lalu bagaimanakah konsep keberuntungan yang paripurna dalam perspektif Islam?

Ayat 29 dari surat Fathir di atas merupakan jawabannya. Keberuntungan bisa dikatakan paripurna bila dilengkapi dengan ”resep ruhani” sesuai konsep Al-Qur’an. Beruntung di sini yang dalam bahasa Al-Qur’annya Tijarotan lan tabor (perniagaan yang tidak akan merugi) diraih dengan tilawah yang intens, shalat yang terjaga, dan sedekah yang tidak terputus.

Haruskah meraih keberuntungan dengan cara demikian?

Di sinilah letak ciri khas ajaran Islam yang mulia. Kehidupan dunia harus senafas dengan tujuan akhirat. Sebab, Islam tidak mengenal term Sekulerisme. Din ini menentang habis-habisan proses sekulerisasi yang membuat dikotomi kehidupan dunia dengan agama. Islam hendak menanamkan nilai-nilai religius di setiap lini kehidupan. Kehidupan di dunia harus dikawal ketat oleh aturan agama. Bukan bermaksud menihilkan kreativitas atau mengekang kebebasan, tetapi demi mengontrol manusia agar tidak melenceng dari kodrat kemanusiaannya.

Islam juga tidak mengenal partikularisme dan inividualisme yang mementingkan kepentingan pribadi. Oleh sebab itu kita mengenal itsar, dimana dalam urusan duniawi kita sepatutnya mengutamakan orang lain atas diri kita dan jangan takut untuk berbagi. Inilah tingkatan ukhuwah yang tertinggi menurut para ulama. Dari sinilah lahir konsep zakat, sedekah, hibah, dan sebagainya.

Kehidupan yang serba keras ini rentan membuat manusia stres dan depresi, termasuk orang Islam sekalipun. Oleh karenanya, selama berkutat dengan urusan dunia, kita dianjurkan menyempatkan tilawah, shalat yang tepat waktu, dan sedekah harta. Niscaya hidup akan seimbang. Karunia Allah pun niscaya akan datang berlipat ganda.

“Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. Fatir: 30)

Keberuntungan tidak cukup dengan kerja keras dan kerja cerdas. Betul, sukses materi bisa diraih dengan keduanya. Tidak peduli dia kafir atau muslim. Bisa saja orang jadi kaya-raya walaupun dia memperolehnya dari jalan yang haram. Namun, Islam tidak memandang segampang itu. Islam menginginkan agar dalam meraih harta harus melalui pintu halal agar penghasilan jadi berkah. Di saat yang sama, Islam juga memotivasi pekerja agar jangan melupakan ibadah agar tidak gampang stress.

Bekerja keras dan bekerja cerdas yang disempurnakan dengan konsep Fathir ayat 29 inilah yang berbuah perniagaan yang tidak akan merugi. Al-Imam Abu Sa’ud dalam tafsirnya menjelaskan pengertian perniagaan yang tiada merugi, ”Tidak akan rusak dan binasa.” Berbisnis dengan Allah kata beliau, sangat kontras dengan bisnis-bisnis lain yang bisa jadi untung atau rugi.

Mereka yang menerapkan konsep Fathir ayat 29 menurut Sayyid Qutb dalam Fi Dzilal sedang berbisnis dengan bisnis beromzet keuntungan. ”Mereka bermuamalah hanya dengan Allah, itulah muamalah yang paling menjanjikan. Mereka berbisnis dengan itu di akhirat, itulah bisnis yang paling menguntungkan. Berbisnis yang mengundang curahan pahala dan bertambahnya karunia Allah bagi mereka,” kata beliau.

Kesimpulannya, berbisnis di dalam Islam itu terikat dengan aturan syara’ yang ketat. Ada aturan halal dan haram. Orientasi bisnis pun bukan sekedar mengejar target finansial semata, namun harus juga untung pahala. Bekerja bukan urusan otak dan otot saja, namun bekerja itu juga ibadah. Meraih rezeki dengan kerja adalah salah satu dari ikhtiar. Memperbanyak tilawah, menegakkan shalat, dan melanggengkan sedekah merupakan ikhtiar dalam bentuk yang lain. Bila semuanya digabungkan, maka niscaya karunia Allah kian mengalir deras.

Subhanallah alangkah seimbangnya ajaran Islam. Kita dianjurkan membangun relasi dengan sesama manusia, namun relasi bisnis dengan Allah jangan dilupakan. Bila relasi yang pertama sifatnya spekulatif, bisa untung atau rugi, sedang relasi bisnis dengan Allah dijamin untung terus.

Islam mengajarkan semakin tinggi pencapaian manusia, ia semakin taqwa pada Pencipta. Semakin naik statusnya di mata umum, tidak juga membuatnya jumawa. Bila dirinya hartawan, diapun harus dermawan pada sesama. Inilah yang dinamakan keberuntungan paripurna. Keberuntungan yang tiada kerugian di dalamnya.

Oleh Habib Ziadi, Alumni Ma’had ‘Aly Isy Karima 2006, Pengasuh PONPES Darul Muhibbin NW Mispalah Praya Lombok Tengah, NTB

BAGIKAN