Peran Muslimah Sebagai Penerus Generasi

282

Bismillahirrahmanirrahiim..

Wanita adalah makhluk yang diciptakan Allah setelah laki-laki. Karena Hawa dari tulang rusuk Adam. Wanita dikenal sebagai makhluk yang lemah, ringkih, dan butuh perlindunga. Dari siapa? Dari lawan jenisnya tentu, laki-laki.

Hanya Islam-lah, agama yang meletakkan wanita pada martabat yang tinggi. Dihormati, dilindungi, dan dimuliakan. Sebelum Islam dating, dunia memperlakukan wanita dengan semena-mena, penuh dengan kekejian hawa nafsu. Contohnya, ketika haid, wanita diusir dari rumahnya, diasingkan, dan tidak boleh ditemui oleh siapapun. Benar-benar dikucilkan sampai dia ‘suci’.

Setelah hadirnya Islam-pun, bangsa yang tak mengenal Islam masih saja memperlakukan wanitanya dengan sikap yang sangat tidak manusiawi. Dilarang sekolah, dilarang keluar rumah, hanya diizinkan pada hal yang berkutat pada dapur, sumur, dan kasur.

Beberapa Negara di timur tengah, yang konon adalah Negara Islam, memperlakukan wanitanya dengan semena-mena. Mereka bercadar, tapi ketika dibuka, wajah dan tubuhnya penuh dengan luka karena terbiasa disiksa dan di’mandikan’ air keras. Jika diselidiki lebih jauh, hal-hal seperti itu bukanlah bagian dari perlakuan yang Rasulullah ﷺ ajarkan. Mereka adalah oknum yang mengatas-namakan Islam dan berbuat semaunya agar dunia tahu, bahwa Islam adalah agama yang keji terhadap wanita. Bahwa Islam adalah agama yang tak mengenal belas kasih terhadap wanita.

Jika melihat kasus seperti itu, muslimah krisis advokasi. Sangat banyak kasus atau kejadian yang tidak diinginkan yang terjadi pada muslimah, namun tidak ada pembelaan di depan hakim. Kasus-kasusnya hanya timbul di media 2 atau 3 hari, kemudian tenggelam bagai logam ke dasar lautan. Kemana para pengacara?

Sama seperti advokat, muslimah juga krisis atas dokter spesialis. Coba kita menyisir seluruh kota di negeri kita ini. Berapa banyak dokter spesialis kandungan yang beraqidah sama? Berapaperbandingan jumlah dokter spesialis laki-laki dan perempuan? Mungkin tak sampai 7:1.

Wahai muslimah..

Masihkah kita berleha melihat krisis ‘orang pintar’ pada kaum kita? masihkah kita bersantai mempercayakan anak kita kepada guru les yang bahkan agamapun mereka tak kenal? Mari bangun dan bangkit, saudaraku..

Tak ada salahnya kita mengajari anak-anak kita hukum pidana dan perdata pada putra-putri kita (setelah al Quran dan as Sunnah tentunya). Tak rugi kita belajar bersama putra-putri kita tentang anatomi tubuh, astronomi, dan lain sebagainya. Kuncinya, tanamkan aqidah sedari mereka kecil. Akan berguna ilmu-ilmu tersebut dikemudian hari, insya Allah..

Tanggung jawab kita bukan hanya lingkup keluarga. Tetangga samping rumah, tetangga satu RT dan satu kecamatan-pun tanggung jawab kita bersama. Tanggung jawab untuk menyebarkan ajaran Islam. Mengislamkan keluarga dan masyarakat.

Mungkin beberapa dari kita ‘alergi’ dengan sesuatu yang tidak ada dalilnya. Tetangga syukuran hamil tujuh bulanan, “bid’ah!”. Gang sebelah mengadakan tahlilan, “bid’ah!”. Perkumpulan ibu-ibu RT mengadakan arisan, “tidak ada dalam al Quran itu!”. PKK tiap bulan, tidak mau hadir, karena hal tersebut tidak tersabdakan oleh Rasulullah ﷺ. Hanya bisa berkomentar tanpa ada tindak lanjut dan solusi yang pasti.

Saudaraku, ketahuilah..

Jika al Quran membahas arisan RT, PKK, dasa-wisma, bias dibayangkan, betapa banyaknya halaman yang membahas hal remeh tersebut. Betapa susahnya para Huffaazh kita menghafalkannya.

Tak salah jika kita hadir dalam arisan ibu-ibu RT. Mungkin, dengan hadirnya kita, dibukanya acara tersebut dimulai dengan bacaan al Quran. Tak ada ruginya kita dating diacara PKK ibu-ibu. Bisa jadi, dengan adanya kita, gosip yang tak pernah absen di antara mereka, berkurang drastis dan berubah menjadi hafalan ‘one day one ayah’. Masya Allah, betapa ‘keren’nya kedatangan kita dalam acara yang ‘tak berdalil’.

Semoga, ada atau tidaknya kita di keluarga atau masyarakat, sangat berpengaruh. Bukan seperti pepatah arab ‘wujuduhu ka ‘adamihi’. Hadirnya, sama halnya dengan tidak adanya.

Wallahua’lambishshawab..

Ditulis oleh Rodhiyatan Mardiyah, Mahasantriwati STIQ Isy Karima, disarikan dari kajian bulanan bersama Ustadzah Binti Maesaroh

 

BAGIKAN