Kajian Ahad Pagi: Nikmat Hidayah, Nikmat Iman dan Islam

245
kajian ahad pagi isykarima

Ada satu hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di sekitar Ma’had Tahfizhul Qur’an Isykarima khususnya dan masyarakat Karanganyar pada umumnya. Jika biasanya hanya santri atau santriwati yang bisa tholabul ‘ilmi kepada para asatidzah dan masyaikh, khusus di hari Ahad masyarakat umum dari berbagai usia, tua muda, baru ngaji atau sudah lama ngaji, dari petani sampai pejabat, semuanya bisa mengikuti kajian di auditorium MTQ Isykarima yang dimulai dari jam 7 hingga jam 8 pagi.

Auditorium MTQ Isykarima yang bisa menampung 1500 orang terisi penuh oleh jamaah, bahkan jamaah akhwat dan ummahat meluber sampai ke masjid Bilal dan menyimak kajian dari layar televisi yang disediakan oleh Ma’had.

Setelah Jumat lalu kita merayakan Idul Adha dan menyembelih hewan qurban, semangat masyarakat dalam menuntut ilmu tidak luntur atau libur. Ustadz Alif Bachtiar, Wakil Mudir 1 MTQ Isykarima, menyampaikan tausyiahnya selama satu jam. Berikut materi yang disampaikan beliau pada Kajian Ahad Pagi MTQ Isykarima edisi 3 September 2017 ini:

Nikmat Hidayah, Nikmat Iman dan Islam

Tiada nikmat yang lebih besar dari semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, kecuali nikmat hidayah: nikmat iman dan Islam.

Setiap hari minimal 17 kali dalam solat lima waktu kita memohon kepada Allah akan nikmat iman dan Islam, setiap saat kita meminta hidayah kepada Allah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

“Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al Fatihah: 5)
Apabila disebutkan nikmat dan hidayah, tidak ada nikmat yang lebih besar daripada nikmat hidayah. Dan hidayah terbesar pada kita adalah iman dan islam. Kalau dianalogikan nikmat iman itu seperti angka 1 dan amal dianalogikan seperti angka 0 yang berderet di belakang angka 1. Apa jadinya kalau hilang angka 1? Tak ada nilainya angka 0 seberapapun banyaknya. Seberapapun besar amal yang dilakukan oleh manusia, tanpa diikat oleh iman dan islam maka tak ada manfaatnya.

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS Ibrahim: 18)
Deretan amal (angka 0) yang banyak tidak ada nilainya tanpa iman dan islam (angka 1). Sekecil apapun amal itu, dengan iman dan islam, Allah akan lipatgandakan amal itu.

Hasan al Bashri, beliau adalah generasi salafush sholih yang tak pernah meninggalkan solat berjamaah sejak takbiratul ikhrom selama 40 tahun lamanya, mengatakan bahwa bukan yang dinamakan iman itu sekedar perhiasan atau pengakuan saja akan tetapi keimanan itu adalah sesuatu yang diikrarkan di hati, masuk di dalam hati, lalu diikutkan dengan amal perbuatan.

Tak cukup mengatakan saya beriman pada Allah tanpa amal perbuatan. Bukan islam KTP. Mengaku Islam namun tidak pernah mengabdi kepada Allah.

Dahulu para salafush sholih, mereka menuntut ilmu dan bertanggung jawab dari keilmuannya itu untuk kemudian diamalkan. Mereka sudah berbuat dahulu sebelum mengajarkan ilmu itu pada orang lain.

Hari ini kita mungkin sulit untuk meniru salafush sholih, kita berupaya untuk melakukan amal tersebut, ada upaya dan usaha untuk mengamalkan ilmu, sembari mengajarkannya pada orang lain. Ilmu harus diamalkan. Kita upayakan bagaimana caranya agar kita menjadi orang yang pertama kali mengamalkan ilmu sebelum mengajarkan pada orang lain.

“Yasudah kalau begitu tidak perlu berilmu, tidak perlu pintar nanti dituntut banyak amal. Lebih baik saya tidak tahu daripada tidak sanggup beramal!“

Bisa jadi ada yang berpikir seperti itu. Ketahuilah, pemikiran seperti itu adalah syubhat yang merusak. Kita dituntut berilmu dan ada berupaya untuk mengamalkan ilmu itu.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)

Seseorang tidak akan tergerak untuk beramal kalau tidak tahu ilmunya, fadhilahnya. Kalau seseorang tidak tahu keutamaan ilmu pasti mereka tidak akan termotivasi untuk menuntut ilmu. Kalau kita tidak tahu ilmu tentang solat, kita akan mudah meninggalkan perintah Allah dan malas dalam beramal. Karena kita tahu dan menuntut ilmu tentang solat, maka kita menjaga solat dengan baik.

Fadhilah amal tak akan diketahui jika kita tidak belajar. Keimanan itu sesuatu yang ada di dalam hati dan dibenarkan dengan amalan. Yang kemudian dari amal itu melahirkan keimanan, ketaqwaan kepada Allah. Hamba yang ‘alim adalah hamba yang takut kepada Allah. Khosyatullah. Orang dikatakan berilmu kalau dengan ilmunya muncul ketakutan kepada Allah. Ulama tidak cukup pintar saja, tapi lahir dari ilmu itu ketakutan kepada Allah.

Kalau kita terbiasa beramal tapi tiba-tiba ketinggalan satu amal karena uzur syari, maka akan ada perasaan menyesal dalam diri. Misalnya kita terbiasa sodaqoh, qiyamullail, sholat dhuha, ketika hilang akan ada penyesalan besar.

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)
Misalnya kita terbiasa datang kajian ahad pagi, lalu karena ada uzur syari kita jadi tidak datang, kita tetap dicatat melakukan amal itu oleh Allah.

Ada orang-orang yang masuk surga dengan jalan yang begitu banyak. Apa amal baik yang bisa membuat kita masuk ke surganya Allah? Amal itu harus istiqomah. Allah ketika ingin hambanya baik, Allah akan memudahkan seseorang untuk melakukan amal istiqomah. Allah akan menutup pintu kejelekan dan membuka pintu kebaikan. Hingga seseorang tersebut wafat.

Amal kebaikan sangat banyak sekali. Orang yang dimudahkan oleh Allah untuk kebaikan, hamba itu akan menyukai kebaikan tersebut. Maka itulah yang disebut keimanan. Tak cukup hanya bilang, “Saya iman! Saya islam!” tapi tanpa diamalkan.

عن سفيان بن عبد الله رضي الله عنه قال: قلت: يارسول الله! قل لي في الاسلام قولا, لا أسأل عنه أحدا غيرك؟. قال: “قل آمنت بالله ثم استقم” رواه مسلم

Artinya: “Dari Sufyan bin Abdullah radhiyallaahu’anhu, ia berkata: aku berkata wahai Rasulullah ! Katakanlah padaku tentang islam dengan sebuah perkataan yang mana saya tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selainmu. Nabi menjawab: “katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah”. (HR Muslim no 38)

Tidak dimungkiri dalam amal-amal itu ada futur, stagnan, yang dulunya rajin tiba-tiba malas hingga tak nongol kajian ahad pagi karena uzur syari. Yang semangat dakwah tiba-tiba jadi tidak kenal lagi dakwah. Tak ada jalan terbaik dari itu semua selain ikut kembali pada ajaran Allah.

Imam Nawawi berkata bahwa di antara makna keimanan itu adalah merasakan manisnya ketaatan kepada Allah dan kemudian memegang beban yang berat itu untuk mencari ridho Allah. Amal yang paling baik itu amalan yang dirasa berat bagi jiwa. Amalan mulia itu yang tingkat kesulitannya sangat besar. Tak ada tantangan yang paling berat seperti orang yang pergi berjihad di jalan Allah. Amalan itu mulia dan besar kalau tingkat kesulitannya itu dirasakan berat dan besar bagi jiwa seseorang.

Solat berjamaah, pahalanya masya Allah, kalau kita bisa kalahkan rasa malas kita bisa dapat kemuliaan yang besar. Qiyamullail berat. Dzkirullah berat. Dzikir adalah ibadah yang tidak diharuskan untuk wudhu. Tapi jika kita tidak terlatih ya tetap berat.

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

Ada orang2 yang rela meninggalkan pekerjaan untuk menuntut ilmu dan dakwah, berinfaq kepada fakir miskin dan anak yatim. Sedangkan manusia cenderung kepada syahwat.

Solat tidak banyak orang suka. Baca quran banyak orang terlenakan, tidak orang yang tidak baca quran satu hari, seminggu, bahkan pegang quran saja tidak. Quran dibeli tapi tidak dibuka, masih disegel lalu ditaruhdi lemari dan dibuka pas bulan Ramadhan saja. Bahkan sampai qurannya dimakan rayap karena tidak pernah dibuka sama sekali.

Itulah amalan. Sehingga surga seperti itu sedangkan neraka sangat mudah membeli sesuatu yang bukan taat pada allah. Infaq aja berat, berinfaq untuk rohingnya berat, tapi untuk belanja yang lainnya begitu sangat mudah.

Ada perbedaan antara infaq dan sodaqoh. Infaq itu berupa materi, infaq yang terbaik adalah nafkah suami pada istrinya. Itulah harta yang paling baik. Tapi ada juga infaq yang dilarang. Apa itu? infaq yang menghalangi manusia dari taat kepada Allah. Orang-orang kafir menginfakkan hartanya untuk menghalangi manusia di jalan Allah.

Bukanlah infaq terbaik, jika kita menginfaqkan barang yang sudah tidak terpakai. Donasi kerudung bekas yang lecek misalnya. Makanan melimpah, baju-baju bekas, sudah tidak terpakai baru dinfakkan. Itu bukan infaq terbaik.

Kalau sodaqoh lebih umum, bisa materi dan non materi. Misal ada pembangunan masjid, mau infaq tidak punya uang. Dia bisa sodaqoh tenaga, dukungan moral. Jangan sodaqoh tenaga terus padahal punya uang, lebih sempurna dengan uang dan tenaganya.

Ada sahabat yang menangis karena tidak bisa jihad, “Seandainya saya orang kaya saya infakkan semua di jalan Allah. Saya punya kehormatan dan kehormatan ini saya berikan kepada islam dan kaum muslimin, saya ridho ya Allah.”

Hingga pagi harinya Rasulullah bertanya siapa yang pagi harinya sodaqoh? Si fulan diam karena merasa tidak sodaqoh.

Lalu Rasulullah berkata, “Wahai fulan, berbagahagialah karena Allah telah menerima soqohmu.”

“Ya Rasulullah saya tidak sodaqoh.” Jawab si Fulan.

“ Allah menerima sodaqoh kehormatanmu kepada kaum muslimin.” Jawab Rasulullah.

Itulah makna infaq dan sodaqoh. Senyummu di hdadapan sodaramu adalah sodaqoh.

Di antara akhlak yang baik, secara global ada tiga:
Pertama tidak menyakiti atau mencela, lisan dan seluruh anggot tubuhnya tidak menyakiti orang lain. Kedua suka memberi atau dermawan. Ketiga wajahnya manis, murah senyum, sumringah. Dilihat menyenangkan. Itulah akhak yang baik. Tidak cemberut terus. Seorang istri boleh cemberut kalau suaminya melakukan hal yang melanggar syariat misalnya.

Apa boleh menzolimi dan memukul? Boleh jika itu dilakukan di jalan Allah. Boleh marah, boleh menahan harta, boleh sabar, boleh sombong semuanya ada waktunya. Berdusta haram tapi dibolehkan saat pertempuran.

Dalam satu pertempuran Ali pernah berbohong. Ketika dia menghadapi musuh yang sangat besar, Ali berkata sambil bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak mau bertempur dengan dua orang. Si musuh menjawab kalau dia sendirian saja. Lalu Ali menunjuk ke arah lain, dan ketika si musuh menoleh, lalu Ali langsung memenggal kepala musuh tersebut. Kalau jujur dalam pertempuran justru bahaya. Orang lemah pun harus menampakkan kekuatan di saat perang. Amalan-amalan ini semua akan memberikan kebaikan pada kita.

Iman itu adalah nikmat dalam ketaatan, membawa beban berat untuk mencari ridho Allah. Dan dari itu Allah akan memberikan surganya kepada kita.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلا رَسُولِهِ وَلا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan dibiarkan (begitu saja), sedangkan Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kalian dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS At-Taubah: 16)

Perniagaan Allah itu mahal. Perniagaan Allah itu ganjarannya. Mustahil berleha-leha. Bersabar sebentar untuk dapat kenikmatan abadi di akhirat kelak.

Ibnu taimiyah berkata bahwa di dunia ada surga. Siapa yang tidak merasakan surga dunia maka dia tak akan merasakan surga di akhirat. Surga di dunia itu adalah iman, islam, kebahagiaan di dalam hati karena keimanan termasuk banyaknya amal perbuatan. Infaq sodaqoh, jihad, nikah, dan lain sebagainya.

Dia akan mendapat amal itu dengan balasan yang sangat banyak. Sebelum tiba masa tidak bermanfaat lagi seluruh amal perbuatan. Bersegeralah menuju amalan Allah, sebelum datang fitnah seperti potongan malam. Kenapa kita disuruh banyak beramal soleh? Karena tidak ada sesuatu yang paling disesalkan oleh mayit seperti amal soleh yang ditinggalkan di dunia.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin (QS As-Sajdah:12)

Allah mengatakan dalam ayat yang lain,

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) (QS Al Mu’minun: 99)

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚكَلَّا ۚإِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖوَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (QS Al Mu’minun: 100)

Dalam sebuah hadits dikatakan Rasulullah pernah berhenti di satu kuburan, kemudian beliau ditanya sahabat kenapa berhenti. Rasulullah lalu duduk dan bertanya siapa yang dikubur ini? Fulan bin fulan. Orang musyrik.

Lalu Rasulullah berkata dan bersumpah atas nama Allah bahwa mayit ini sedang mencari-cari amal soleh yang dia lakukan untuk bisa menyelamatkannya dari azab kubur. Seandainya dia punya solat dua rokaat saja, punya amalan itu saja yang dilakukan di dunia, itu cukup memperingan azab kuburnya.

Karena dia tidak pernah sujud dalam hidupnya. Tak ada orang kafir yang tertanam kecintaan kepada Allah.
Maka nikmat hidayah ini harus kita jaga. Semoga kita istiqomah tetap di jalan ini dengan kesabaran. Kesabaran yang menjadikan kebaikan pada diri kita. Sabar dalam taat, sabar tinggalkan larangan, sabar dalam takdir yang dberikan.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya oleh anaknya, “Wahai ayah kapan kita istirahat?” Lalu Imam Ahmad menjawab bahwa di surgalah nanti kita beristirahat. Lewat sirot dengan selamat, langkah kaki kanan dan kiri sudah masuk ke surga. Dunia adalah lahan ujian, lahan beramal, sedangkan dunia ini surga bagi orang kafir.

Apa yang membuat kita kita bahagia apa? Iman.

Seorang ulama generasi salafush sholih pernah kehabisan bekal dalam sebuah perjalanan, dia lalu melewati sungai kemudian menyiduk air dengan kedua tangannya. Diawali dengan ucap bismillah dan diakhir dengan Alhamdulillah. Lalu dia berkata seandainya para raja bergelimang harta mengetahui atas apa keimanan kebahagiaan itu dalam hati kami, mereka akan merebutnya dengan kekuatan dan senjata mereka. Andai mereka tahu kebahagiaan iman, dia akan merebutnya dengan senjata mereka.

Kebahagiaan itu dimana? Di dalam hati. Sederhana tapi bahagia. Orang kaya bergelimang harta tidak bahagia karena tidak dekat dengan Allah. Orang bahagia itu di hati. Cinta allah, dekat quran, cinta rasul, cinta sunnah dan lain-lain. Dunia akan ditinggalkan. Akhirat yang kekal selamanya.

Allah akan luaskan kubur sejauh mata memandang bagi orang beriman. Bagi orang kafir akan dihimpitkan sampai menghancurkan tulangnya. Semoga Allah memberi kita keistiqomahan, meninggal dalam husnul khotimah, dan dikumpulkan di surga bersama Rasulullah, para syuhada dan orang-orang sholih.

[rep:agng]

kajian isy karima

BAGIKAN