Hukum Sengaja Menjauhi Makan Daging Pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Muharram

170
makan daging di bulan muharram

Tanya: Keluarga suamiku biasa menjauhi makan daging dari sejak awal bulan hingga hari kesepuluh Muharram. Mereka beralasan bahwa itu adalah kebiasaan yang telah dilakukan sejak dahulu. Oleh karena itu, tiap anggota keluarga wajib melakukannya. Apakah hal ini dibolehkan?

Jawab:
Segala puji bagi Allah. Meninggalkan hal-hal mubah yang dihalalkan oleh Allah itu adalah kerahiban yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kerahiban ialah meninggalkan hal-hal mubah seperti menikah, daging, dan lain-lain. Ada sekelompok sahabat radhiyallahu ‘anhum ingin melakukan kerahiban, maka Allah menurunkan ayat yang melarang mereka, kalam-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87). Disebutkan dalam shahihain mengenai beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satunya berkata, ‘Aku akan berpuasa tanpa berbuka.’ Yang lain menimpali, ‘Aku akan shalat malam terus tanpa tidur.’ Yang lain lagi berkata, ‘Aku tak akan menikah selamanya.’ Yang lainnya berujar, ‘Adapun aku, maka aku tidak akan makan daging.’ Mendengar hal itu maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, ‘Mengapa orang-orang itu berkata begini dan begitu? Aku ini berpuasa juga berbuka. Aku shalat malam namun juga tidur, dan aku juga menikahi wanita serta makan daging. Barangsiapa membenci sunnahku maka bukan bagian dariku.’ Nash-nash shahih telah menjelaskan bahwa kerahiban adalah bid’ah dan kesesatan.” (Dinukil secara ringkas dari Al-Jawab As-Shahih, juz. 2, hlm. 194-197).

Walhasil, siapapun yang beribadah kepada Allah dengan menjauhi daging atau hal-hal mubah lainnya pada hari-hari tertentu maka hal itu adalah termasuk syariat yang tidak diizinkan oleh Allah. Baik ia meyakini bahwa hari-hari itu mempunyai keistimewaan yang mengharuskan menjauhi daging, atau meyakini pada hari-hari itu haram atau makruh makan daging, atau ia meyakini bahwa wajib tidak makan daging pada hari-hari itu, maupun meyakini bahwa menjauhi daging dan hal-hal mubah lain dengan suatu cara tertentu adalah mendekatkan diri kepada Allah. Semua itu adalah bid’ah sesat yang dibenci oleh Allah.

Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Setiap orang yang mencegah dirinya memanfaatkan hal-hal yang telah dihalalkan oleh Allah tanpa uzur syar’i maka berarti ia telah keluar dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Siapapun yang mengerjakan selain sunnah sebagai agama maka itulah ahli bid’ah.” (Al-I’tisham hlm. 59).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Allah ta’ala memerintahkan makhluk-Nya untuk beribadah hanya kepada-Nya dan tak menyekutukan-Nya. Ia juga memerintahkan makhluk-Nya untuk mengibadahi-Nya sesuai dengan syariat-Nya tanpa yang lainnya. Kalam-Nya, ‘Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.’ (Al-Kahfi: 110), dan kalam-Nya, ‘Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.’ (Al-Mulk: 2). Seseorang yang menjalani hidup zuhud dan beribadah jika pada lahirnya ia mengikuti syariat namun maksudnya riya, sum’ah, dan agar disegani orang-orang maka amalnya itu batil tidak diterima Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih kalam Allah ta’ala, ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan serikat. Barangsiapa melakukan amalan yang ia menyertakan sesuatu selain-Ku di dalamnya maka Aku berlepas diri darinya. Seluruh amalnya itu bagi sesuatu yang disertakannya itu.’ Dalam hadits shahih juga disebutkan, ‘Barangsiapa yang memperdengar-dengarkan (amalnya) maka Allah akan memperdengar-dengarkannya, dan barangsiapa yang memperlihat-lihatkan (amalnya) maka Allah akan memperlihat-lihatkannya.’

Jika ternyata niatnya ikhlas karena Allah, namun beribadah dengan yang tidak disyariatkan, seperti diam terus-menerus, berjemur terus-menerus, tidak berpakaian selain kain wol atau kain dari serat kayu, menutupi wajahnya terus-menerus, menjauhi makan roti, daging, minum air, dan yang semisalnya, maka ibadah-ibadah ini adalah batil tertolak sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perkara kami ini apa yang tidak bersumber darinya maka ia tertolak.’ Disebutkan dalam shahihain mengenai beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satunya berkata, ‘Aku akan berpuasa tanpa berbuka.’ Yang lain menimpali, ‘Aku akan shalat malam terus tanpa tidur.’ Yang lain lagi berkata, ‘Aku tak akan menikah selamanya.’ Yang lainnya berujar, ‘Adapun aku, maka aku tidak akan makan daging.’ Mendengar hal itu maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, ‘Mengapa orang-orang itu berkata begini dan begitu? Aku ini berpuasa juga berbuka. Aku shalat malam namun juga tidur, dan aku juga menikahi wanita serta makan daging. Barangsiapa membenci sunnahku maka bukan bagian dariku.’ Shalat dan puasa adalah ibadah. Tidak makan daging dan tidak menikah itu boleh saja. Namun ketika keluar dari sunnah dengan melakukan kadar yang lebih dari yang disyariatkan, juga dengan meninggalkan hal-hal yang mubah seperti perbuatan para rahib, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlepas diri dari orang yang melakukan hal itu karena ia berarti membenci sunnah, sabdanya, ‘Tidak ada kerahiban dalam Islam.’” (Majmu’ Fatawa, juz. 11, hlm. 612-614).

Kesimpulannya, kebiasaan menjauhi makan daging pada hari-hari itu sebagaimana yang digambarkan, baik karena janji kepada Allah, kebiasaan yang telah berlaku, janji kepada diri sendiri, maupun tanpa janji apapun, semua itu adalah bid’ah yang diharamkan mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Tidak boleh taat dan mengikuti leluhur dalam hal itu.

Alih bahasa: Furqon
Sumber: https://islamqa.info/ar/224509

BAGIKAN