Apakah Paman Membawa Mushaf ?

502

SORE itu, kukunjungi desa Ubin di pinggiran propinsi Idlib. Menemani tim medis memberikan pelayananan kesehatan untuk masyarakat. Salah satu tempat yang kami singgahi adalah perkemahan keluarga Syuhada ummahatul mukminin.

Sesuai namanya -keluarga syuhada-perkemahan ini ditempati oleh para janda dan anak yatim yang suami atau ayahnya telah gugur di medan pertempuran di Suriah.

Keluarga ini berasal dari provinsi yang berbeda-beda, seperti Lattakia, Idlib, Hama, Homs, bahkan dari Damaskus.

Sesampainya di perkemahan, tim medis segera menuju sebuah tenda dan melayani pasien. Sementara itu aku tetap tinggal di dalam mobil untuk tugas lain, menghibur anak-anak. Sebelumnya aku sudah berbekal ransel berisi biskuit coklat yang memang disiapkan untuk mereka. Ku ajak mereka membaca Al Quran.

” Surat apa yang akan kita baca?,” tanyaku.

“Al Fiil, Al Kaafiruun, At Takatsur, Al Lahab..!!”, sahut mereka dengan tangkas.

Semua surat yang mereka pinta kami baca semua, dengan suara penuh semangat.

” Nah sekarang paman Abu Zubair (demikian ia memanggilku) minta kalian membacakan surat Adh Dhuha, bisa tidak?”, tantangku.
” Bisaaaaa…!”, tanggap mereka serentak. Lalu merekapun mulai membaca,” Wadh Dhuha, wal laili idza saja…”

Lepas itu mereka giliran memintaku,”Paman, bacakan untuk kami surat Al Fajr!” Aku mengangguk dan membacakan untuk mereka.

“ Ada yang bisa menyanyi?”, tanyaku.

Semua langsung terdiam dan tersenyum malu saling mendorong membuatku tertawa.

Akupun membuka suara,” An tudkhilani robbil jannah…!”

” Hadza ma aqsha atamanna…!” merekapun menyahut.

Kami bernyanyi bersama dengan gembira. Setelah membaca beberapa surat dari Al Quran dan menyenandungkan nasyid, kubagikan kue yang sudah dipersiapkan. Ketika hampir selesai, datang 3 gadis cilik menyeruak ke hadapanku.

“Ehh..kalian belum dapat kue ya?” sapaku.

Ketiganya saling lirik dan saling dorong pundak. Dan tertunduk tersipu malu saat kupandangi. “Ini kue untuk kalian!”, ujarku.

Belum sampai kue ke tangan mereka, salah satu dari mereka berkata, ” Tidak paman, kami sudah dapat.”

” Terus, apa yang bisa paman bantu, saudariku?”, tanyaku keheranan

” Emm..paman Abu zubair membawa mushaf Al Quran tidak?”, tanya mereka polos.

Aku sungguh terkejut dengan perkataan mereka. “Mushaf Al-Quran, untuk apa?,” tanyaku penasaran.

“Paman, kami ingin menghafal Al Quran tapi kami tidak punya mushaf,” ujar mereka menjelaskan.

“Kami ingin menghafal Al Quran tapi kami tidak mempunyai mushaf.”

Perkataan anak-anak syuhada ini memaksaku hampir menangis, menangisi kelemahanku dan menangisi kehebatan mereka.

” Maaf saudari-saudariku paman tidak membawa mushaf tapi paman janji insyaAllah nanti akan bawakan mushaf untuk kalian.”

“Benar ya paman, jangan sampai lupa!”, pinta mereka penuh harapan.

“InsyaAllah,” balasku.

Hari semakin sore, aku dengan tim kembali ke markas dengan segala perasaan, tangis dan senyum.
Aku kembali mengunjungi tempat mereka seminggu berikutnya.

” Hore..hore..paman Abu Zubair datang!” mereka bersorak kegirangan.

Seperti sebelumnya, kami membaca Al Quran, menyenandungkan nasyid, dan membagikan kue.

Tiga orang gadis sebelumnya menemuiku menagih janji,” Paman, paman mana mushafnya?”

” Degg, Subhanallah!!” Aku lupa titipan mereka. “Waduh, afwan paman lupa,” sahutku penuh sesal.

” Yaahh..kok lupa?,” tanya mereka.

“Bagaimana ya, paman benar-benar lupa,” sesalku semakin bertambah.

Tersirat kekecewaan di wajah mereka. Aku merasa bersalah sekali.

“Maaf, sekali lagi paman minta maaf!”, sesalku memohon.

“Nggak apa-apa, tapi besok-besok jangan lupa lagi,” balas mereka.

Aku mengangguk mantap. Begitu pulang langsung kusiapkan beberapa mushaf dan ku masukkan kedalam tas, aku tidak ingin kecolongan lagi.

Di hari berikutnya aku berangkat ke perkemahan keluarga syuhada, kali ini hanya ditemani oleh Abu Aisyah, relawan MMS tanpa tim medis yang lain. Karena hari itu aku datang sengaja hanya untuk menyerahkan mushaf Al Quran dan kue tentunya. Betapa bahagia mereka saat mengambil mushaf yang aku bawa. Tapi, siapakah orang yang paling berbahagia waktu itu? Akulah orangnya.

Semoga Allah menjaga mereka, menjadikan dan memudahkan jalan mereka menjadi para penghafal Al Quran!*

Dikisahkan Abu Zubair, relawan MMS di Suriah,

Dilansir dari hidayatullah.com 

BAGIKAN