Al Hajib Al Mansur, Tukang Ojek Yang Menjadi Khalifah

2153

Namanya adalah Muhammad bin Abi Amir, atau yang lebih terkenal dengan Al Hajib Al Mansur. Dia adalah khalifah yang masyhur kedua di Andalus setelah Abdurrahman Ad Dakhili. Tapi tahukah kalian, sebelum menjadi khalifah sebenarnya dia adalah seorang tukang ojek? Ya, Muhammad bin Abi Amir awalnya hanyalah seorang khammar, seseorang yang menyewakan keledainya. Istilah kita sekarang ojek keledai. Dan keadaannya saat itu bisa dibilang sederhana sekali.

Dia tinggal di salah satu kos-kosan di sudut negeri Andalus. Kosnya terdiri dari 2 lantai, lantai bawah untuk sang pemilik rumah, dan lantai atas untuk “anak kos”. Dia juga tidak sendirian, karena bersamanya ada teman-temannya sesama pengojek. Bernasib sama, sama-sama miskin, sama-sama kurang duit, pokoknya serba kurang. Dan seumur hidup, belum pernah sekalipun mereka menyentuh yang namanya uang dinar.

Suatu malam, sepulang kerja dia bertanya kepada temannya. “Seandainya aku jadi khalifah, apa yang akan kau minta dariku?”. Temannya pun tertawa. Dikiranya Muhammad sedang linglung karena kecapekan setelah seharian bekerja. Tapi Muhammad terus memaksa temannya.

Setelah dipaksa sekian lama, akhirnya berkatalah temannya yang pertama. “Seandainya engkau jadi khalifah, aku ingin sebuah istana yang megah, lengkap dengan isi-isinya. Baik pengawal, dayang, dan pelayan-pelayannya, serta taman yang hijau. Aku juga ingin seribu dinar emas.” Temannya menjawab sekenanya, karena dia menganggap hal itu hanya sekedar guyonan.

Berbeda dengan teman yang satunya. Permintaannya jauh lebih aneh. “Seandainya engkau jadi khalifah, aku ingin engkau melelerkan cairan di mukaku, yang bisa membuat semua lalat menghinggapiku. Aku juga akan menunggang keledai ke pasar dengan menghadap belakang, dan kau menyuruh semua anak di kota meneriakiku orang gila-orang gila.”

Singkat cerita berlalulah malam itu. Dan negeri Andalus membuka lowongan buat jadi polisi. Iseng-iseng Muhammad mencoba mendaftar dan ternyata diterima. Akhirnya berhentilah dia dari ngojek dan melaksanakan tugas barunya sebagai seorang polisi. Dan ternyata, ada rahasia yang membedakan dia dengan teman-temannya yang lain. Setiap harinya setelah selesai ngojek, dia pergi ke masjid Agung Cordoba dan mengikuti talim di sana. Terbentuklah akhlak santun beliau dari majelis tersebut. Dan dari situlah keajaiban itu bermula.

Suatu ketika, salah seorang komandan polisi takjub melihat keuletan, kerajinan, dan integritas seorang Muhammad. Diapun akhirnya menyuruhnya untuk mendisiplinkan polisi-polisi yang pada saat itu pada bermalas-malasan dalam bekerja. Dia berbahagia dengan tugas barunya itu.

Suatu ketika, dia melihat komandan yang memberinya tugas tadi tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Dia peringatkan komandannya, namun sang komandan tidak terima. Terjadilah konflik. Akhirnya kabar itu terdengar oleh komandan yang lebih tinggi. Dan Muhammad pun, mulai terangkat karirnya, dari seorang prajurit kroco, hingga seiring berjalannya waktu mampu menjadi ‘Kapolri’nya Andalus.

Pada saat dia menjadi ‘Kapolri’, sang khalifah meninggal dunia. Jika menurut pada sistem, seharusnya anaknya lah yang berhak menggantikan sang khalifah. Tapi ternyata, anak khalifah yang paling besar masih berumur 10 tahun. Hal itu tidak memungkinkan baginya untuk menjadi khalifah.

Para rijalusy syuro, ahlul hal wal ‘aqd akhirnya mengadakan rapat pleno besar-besaran. Dan diputuskan, khalifah resminya tetap anak tersebut, tapi jalannya roda pemerintahan sesungguhnya dipegang oleh orang lain. Mereka lalu menentukan berbagai syarat sebagai standar kelayakan seorang penjaga khalifah. Setelah diseleksi, munculah 3 nama. Seorang menteri, seorang jenderal militer, dan Muhammad sang ‘Kapolri’.

Setelah diseleksi lagi, singkat cerita akhirnya Muhammad terpilih menjadi pengawal khalifah dan dia mulai dijuluki sebagai Al Hajib Al Mansur. Seorang penjaga yang ditolong. Lambat laun, Andalusia kembali menuju masa kejayaan kembali di masanya, dan dia mampu merebut hati rakyat Andalus hingga akhirnya dia diangkat menjadi khalifah yang resmi.

Setelah menjadi khalifah, ia teringat akan janjinya kepada kedua temannya. Disuruhnya pengawalnya untuk memanggil kedua pengawalnya. Kedua temannya saat ditemui pun bingung kenapa mereka dipanggil, begitu juga sang pengawal. Tapi karena ini adalah panggilan khalifah, mereka terpaksa harus menaatinya.

Mereka memasuki istana dengan menunduk. Biasa, saat itu mereka bisa dibilang udik, kampungan, atau ndeso. Dan mereka belum mengetahui kalau ternyata sang khalifah adalah teman lama mereka, karena Muhammad bin Abi Amir lebih terkenal dengan gelarnya Al Hajib Al Mansur.

Seraya tersenyum, Sang khalifah lalu memanggil keduanya “Masih ingatkah kalian denganku kawan? Aku adalah Muhammad, ya Muhammad bin Abi Amir, teman kalian sekosan dahulu”. Kedua temannya saling berpandangan tidak percaya. “Dan sekarang aku akan memenuhi janjiku, karena tidak pantas bagi seorang pemimpin untuk menghianati janjinya”. Dan akhirnya ia benar-benar memberikan apa yang kedua temannya ini minta dahulu. Yang satu ia berikan sebuah istana beserta isinya dan uang seribu dinar, sedang yang satunya ia arak ke pasar dengan teriakan orang gila dari para anak-anak.

***

Maka, pesan cerita di atas, jangan meremehkan angan-angan. Siapa sangka angan-angan seorang tukang ojek untuk menjadu khalifah bisa terwujud? Siapa sangka permintaan istananya kepada temannya yang berangan-angan mampu menjadi kenyataan? Dan siapa sangkan peremehannya pada angan-angan temannya mampu menjadi kenyataan pula? Begitulah logika langit bekerja. Ajaib.

Pesan kedua, berangan-anganlah yang tinggi lalu beramalah. Karena apa yang jadi dongeng bagi manusia, bisa terwujud di tangan mereka yang mau bekerja dan percaya janji-Nya. “i’maluu fakullun muyassarun lima khuliqo lah”. Bekerjalah karena setiap orang akan dipermudah untuk menggapai takdir mereka. Dan Muhammad bin Abi Amir telah bekerja untuk mewujudkan takdirnya menjadi seorang khalifah. Kapankah kita?

Pesan ketiga, jangan remehkan cita-cita orang di sekitar kalian. Mungkin awalnya hanya obrolan ringan di kamar atau di kelas, tapi kita tidak tahu jika suatu saat obrolan yang mungkin kita anggap sekedar guyonan itu suatu saat bisa menjadi kenyataan.

Lalu apakah kalian siap menjemput impian kalian?

Ditulis oleh Huda S Drajat, Santri kelas 3 , Madrasah Aliyah Tahfizhul Qur’an (MATIQ) Isy Karima

SHARE