'Rindu Kami Padamu Masjidil Aqsha'

1077

BAITUL MAQDIS TERJAJAH, Rabu (Kantor Berita Quds Network): “Saya telah jatuh cinta kepada Masjidil Aqsha, cinta ini melekat kuat dalam hati hingga membuat saya tak pernah berhenti memikirkannya. Cinta ini begitu menyakitkan bila berpisah. Kini Masjidil Aqsha diserbu oleh mereka yang tak berhak dan saya dijauhkan darinya. Jika Anda berada di posisi saya, apakah Anda akan diam membisu dan mengunci pintu, sedangkan kekasih Anda dihinakan tepat di depan mata Anda?”

Demikian ungkap Nahlah Shiyam, Muslimah Palestina dari desa Silwan yang telah melekatkan hatinya pada Masjidil Aqsha dan menjadikannya bagian penting dari hidupnya. Setiap hari ia langkahkan kaki untuk mengunjunginya. Namun, kini ia hanya bisa berdiri di depan pintu menyaksikan pemukim-pemukim ilegal Yahudi menyerbu Masjidil Aqsha, berkeliling di dalamnya, dan keluar-masuk seenaknya sambil menari-nari dan memprovokasi.

Kenyataan pahit ini ia dapatkan setelah penjajah Zionis memberikan keputusan zhalim untuk menjauhkannya dari Masjidil Aqsha. Keputusan ini berlangsung sejak dua bulan yang lalu dan berakhir nanti pada pertengahan Ramadhan. Artinya, ia dijauhkan dari Masjidil Aqsha selama 90 hari.

“Ramadhan telah tiba dan sudah berlalu beberapa hari, sementara hati saya menerima sayatan dari ketidakadilan dan penindasan ini. Saya dijauhkan dari tempat baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam di-Isra’kan, dan hanya dibolehkan beberapa langkah saja untuk mendekat,” ujarnya kepada Quds Network.

“Menyakitkan sekali ketika sampai di gerbang Masjidil Aqsha menyaksikan jamaah Muslimin berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru, baik dari Baitul Maqdis, Tepi Barat maupun kota-kota terjajah yang lain. Mereka dibolehkan masuk setelah sekian lama terpisahkan, sementara saya dilarang masuk bukan karena dosa yang saya perbuat atau kejahatan yang saya lakukan. Akan tetapi, karena saya menunaikan hak-hak saya untuk beribadah di dalam Masjidil Aqsha.” Itulah ungkapan perasaan Nahlah ketika menyaksikan ummat Muslim beramai-ramai memasuki Masjidil Aqsha.

Nahlah hanya bisa membayangkan bagaimana suasana Ramadhan di dalam Masjidil Aqsha, “Saya akan shalat tarawih di sana, tepat di depan gerbang-gerbang Masjidil Aqsha. Dan yang pasti, jiwa beserta raga saya akan berada di sana,” pungkasnya. Meskipun demikian, Nahlah tetap lapang dada. Bahkan ia bertekad selama masa ia dijauhkan dari masjid tercinta akan ia manfaatkan untuk mempelajari lebih banyak tentang Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis, Al-Quran beserta tajwid dan ahkamnya.

Tidak hanya Nahlah yang Ramadhan ini dijauhkan dari Masjidil Aqsha, ia ditemani tiga Muslimah serta empat lelaki yang rutin mengunjungi Masjidil Aqsha setiap hari. Di antara mereka adalah Nizam Abu Rumuz yang dijauhkan selama 90 hari sejak sebulan lalu dengan dalih menjadi penghambat gerakan pemukim Yahudi saat berada di halaman Masjidil Aqsha. Mengenai hal ini ia mengatakan, “Mereka menjauhkan saya dari Masjidil Aqsha selama hari-hari besar Yahudi dan mengancam akan menjauhkan saya dari Masjidil Aqsha selama bulan Ramadhan yang penuh keistimewaan ini. Mereka mengira mampu menghukum kami, nyatanya hal ini justru menambah ketabahan dan keteguhan kami. Setiap shalat tarawih keluarga dan anak-anak saya ikut berjamaah di Masjidil Aqsha.” Ia menegaskan bahwa upaya menjauhkan ia dari Masjidil Aqsha tidak akan mengurangi jumlah pembela Masjidil Aqsha. Satu dijauhkan, maka akan ada sepuluh yang menggantikan.

Nama lain yang akan melewatkan Ramadhan tanpa Masjidi Aqsha adalah Abu Shawahanah yang mendapat julukan “Syeikh orang-orang yang dijauhkan”. Julukan ini ia dapat setelah dijauhkan dari Masjidil Aqsha lebih dari sepuluh kali. Sekarang ia dijauhkan dari Masjidil Aqsha selama 60 hari. “Sudah dua hari saya tidak memasuki Masjidil Aqsha sejak keluar keputusan terbaru untuk menjauhkan saya. Saya tetap bertekad akan datang setiap hari, meskipun hanya bisa berada di luar Masjidil Aqsha.” katanya kepada Quds Network.

Setiap Ramadhan ia bersama keluarga biasa datang menempuh jarak bermil-mil dari kota Sakhnin untuk berbuka di halaman Masjidil Aqsha. Namun, Ramadhan kali ini terasa berbeda setelah keluar keputusan itu. Ia datang bersama rombongan menaiki bis, semuanya dibolehkan masuk kecuali dia. Ia hanya bisa berdiri di depan gerbang dan shalat tarawih di jalanan.

Shawahanah berharap seluruh ummat Islam tekun datang beramai-ramai untuk shalat di Masjidil Aqsha sampai shaf-shaf terisi penuh, meskipun ia sendiri dijauhkan.* (Kantor Berita Quds Network | Sahabat Al-Aqsha/Dul)

]]>