Ramadhan di Tengah Reruntuhan

1194

GAZA, Rabu (Middle East Eye): Menjelang waktu Maghrib, biasanya seluruh keluarga Muslim di Gaza akan berkumpul duduk mengitari meja makan untuk berbuka puasa. Ramadhan merupakan saat untuk berbuat baik, memohon ampunan dan muhasabah.

Namun, tahun ini berbeda. Alih-alih berkumpul di ruang yang nyaman, Saleh Abu Aser (36) dan keluarganya kini duduk beralas selimut kecil di lantai yang keras, di bagian rumah mereka yang masih tersisa sesudah dihancurkan oleh serangan militer Zionis musim panas lalu.

“Sebelumnya rumah kami seluas 300 meter persegi, dihuni 35 anggota keluarga kami. Kini yang tersisa hanyalah 30 meter puing,” kata Saleh. Kemudian, sang istri bergabung bersamanya dengan membawa semangkuk arugula segar (sayuran yang berasal dari wilayah Mediterania, biasa digunakan untuk campuran salad).

Hidangan sederhana salad tahini, nasi campur dengan roti segar dan jus buah disiapkan oleh istri Saleh yang tengah hamil tua, Dareen Abu Aser (36), di sebuah ruang terbuka yang kini berfungsi sebagai dapur. “Saya dulu memiliki perlengkapan dapur yang bagus, tapi sekarang saya harus memasak di sudut ini, dekat tembok yang bisa roboh kapan pun.”

Jika tembok itu roboh, keluarga tak lagi memiliki tempat untuk tinggal. Dan Dareen tahu bahwa tinggal di sekolah-sekolah milik PBB yang dijadikan tempat penampungan tidak pernah menjadi pilihan aman karena Zionis juga menargetkan fasilitas warga sipil.

Perang 51 hari di Jalur Gaza pada Ramadhan dan musim panas 2014 membuat banyak warga Gaza mengungsi di ruang-ruang kelas sekolah milik PBB selama berbulan-bulan. Perang tersebut membunuh sekitar 2.250 warga Palestina, termasuk kurang lebih 551 anak-anak. Warga Palestina di Gaza kini mengingat kembali perang itu, setelah diterbitkannya laporan PBB baru-baru ini yang menyatakan bahwa ‘Israel’ dan Palestina mungkin sama-sama melakukan kejahatan perang.

Namun, kenyataan pahit di lapangan nampaknya tidak mengubah diskusi para pemimpin komunitas internasional. Bagi hampir dua juta penduduk, rekonstruksi Gaza lebih nampak seperti impian yang dibuat-buat, ketimbang janji untuk menolong. Menepis segala rintangan, Dareen tetap kuat dan tabah, serta terus menunjukkan kasih sayangnya sebagai ibu kepada anak-anaknya; Riad (8), Tasneem (7), Intisar (5), Maisa (3), dan Ibrahim (2).

Ia masih berusaha menyiapkan makanan sederhana di meja dan berkumpul bersama anak-anaknya. Keluarga bersyukur dan berdoa bagi kebebasan dan kedamaian merayakan keimanan mereka di tanah air mereka. “Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan kebahagiaan –kami berupaya untuk menjaganya seperti itu, meskipun kondisi mengerikan dan stres tak tertahankan,” kata Saleh Abu Aser.

Saleh Abu Aser mengingat kembali Ramadhan tahun lalu penuh dengan penderitaan dan kepedihan. Ia kehilangan banyak orang terkasih. Orang-orang terdekatnya direnggut oleh meriam tank-tank Zionis dan wilayah Shujaiyah menjadi puing-puing. Meski hidupnya bagai mimpi buruk, ia masih memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik. “Di sini kami tinggal hanya dengan beberapa keluarga. Kami merasa terasing, tapi kami tak punya pilihan lain. Komunitas internasional gagal lagi melakukan rekonstruksi di Gaza,” katanya pada Middle East Eye (MEE).

“Makanan, Ayah, makanan, makanan!” pinta anaknya, Riad, seraya tersenyum.

Setelah berbuka puasa, Dareen Abu Aser membersihkan piring-piring dan melipat kain kecil yang dipakai sebagai alas duduk keluarga. Ia berhenti sejenak dan tersenyum saat dia membungkuk dengan perut besar. Seorang bayi sebentar lagi akan lahir. “Kami tak punya pilihan selain menciptakan Ramadhan senormal mungkin bagi anak-anak kami, meski harus duduk di sisa-sisa rumah kami yang hancur.”

Beberapa waktu lalu, saudara Abu Aser menjadi seorang ayah. Saleh Abu Aser mendengar kabar itu dari seseorang. Kini, karena keluarganya tersebar di penjuru Kota Gaza, tidak mungkin baginya mengunjungi mereka satu per satu. “Dulu kami, 35 orang, akan duduk di sekeliling meja untuk berbuka puasa bersama. Namun, perang memisahkan kami.” Ia mengatakan, ia hanya memiliki tekad kuat untuk tetap hidup di tempat yang selalu ia cintai. Mereka mungkin tidak memiliki ruang makan, tapi keputusan keluarga mereka untuk tetap tinggal lebih berharga.

“Belajar untuk mencintai tanah airmu, belajar mencintai saudara perempuanmu dan tidak pernah menyerah atas apa yang kau perjuangkan,” kata Saleh pada anaknya, Riad, dalam “kultum” sebelum melaksanakan shalat tarawih.

Di luar rumahnya yang hancur, Masjid Shujaiyah menjadi saksi pengrusakan yang dilakukan Zionis. Tahun-tahun sebelumnya, tempat tersebut akan dibanjiri jamaah, tahun ini semuanya hancur dan tidak bisa menjadi tempat ibadah. Kelompok pengamat hak asasi manusia yang berbasis di Gaza dan Jenewa, Euromid, mencatat sekitar 171 masjid hancur, 62 di antaranya diserang oleh pasukan udara Zionis saat perang 51 hari tahun lalu.

Rumah Rakitan

Khuza’a, di selatan Jalur Gaza merupakan desa yang berada di bawah pengepungan selama perang musim panas lalu. Di sana berbagai pelanggaran HAM terjadi, termasuk penembakan dari jarak dekat. Ini sepenggal kisah para pengungsi yang Ramadhan tahun ini terpaksa masih tinggal di pengungsian yang jauh dari rasa nyaman.

Ini sudah hari ke sekian Ramadhan. Saat azan Maghrib berkumandang, Ahmed Emish (35), ayah dari empat anak, berdiri di luar rumah untuk menikmati udara segar. “Kami tidak bisa mendapat udara segar di dalam rumah rakitan yang dibangun oleh lembaga donor,” katanya. “Kami merindukan rumah kami yang dulu dan peternakan ayam,” kata Emish, yang menafkahi keluarganya dengan bekerja di peternakan unggas. Sebelum perang, ia biasa bersedekah, tapi kini ia dan keluarganya bertahan dari kemurahan hati orang lain.

Rumah rakitan mengakibatkan banyak penderitaan bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal di Khuza’a. Kini, mereka bahkan lebih menderita lagi akibat panasnya musim panas. “Tinggal di bangunan rakitan tidak bagus, bahkan bagi binatang,” ia menjelaskan.

Terdapat sekitar 160 rumah rakitan di Khuza’a, dimana keluarga besar yang terdiri dari enam orang seperti keluarga Emish tinggal di satu kamar; tempat mereka menyiapkan makanan, makan, tidur, mandi dan menggunakan toilet. “Lantai dan atapnya berkarat dan air limbah merembes ke dalam kamar,” katanya.Lalu, ia menceritakan momen yang seharusnya indah ketika keluarga berkumpul untuk sahur. “Air menggenangi rumah kami pada pukul 2.30 pagi ketika istri saya bangun dan hendak menyiapkan makanan sahur. Air limbah menutupi lantai. Bayangkan menyiapkan makanan dalam kondisi seperti itu,” katanya. Janji-janji yang mereka terima dari berbagai lembaga bantuan belum terealisasi karena keluarga di sana masih tidak diberi makan dan kondisi kesehatan anak-anak terancam bahaya.

Rumah-rumah rakitan darurat dibuat untuk digunakan para pengungsi dalam jangka pendek usai perang. Akan tetapi, kini nampaknya itu akan menjadi realita jangka panjang jika tak ada rekonstruksi di Gaza. Saat perang, ia dijanjikan oleh Zionis bahwa jika ia meninggalkan rumahnya, maka keluarganya akan aman. Namun, saat kembali rumah mereka sudah benar-benar hancur.

Ramadhan dalam pandangan Emish adalah mengingat pengrusakan lingkungan secara massal, kerusakan peternakannya dan penjagalan ayam-ayamnya di bawah tank-tank dan peluru Zionis. Namun, ketika MEE menanyakannya untuk mengingat kembali momen membahagiakan Ramadhan sebelumnya, ia tersenyum dan berkata: “Saya ingat hari-hari indah di taman kami yang besar dimana kami akan duduk dan makan bersama keluarga dengan damai, disajikan dari dapur bergaya Amerika yang luas dan modern.” *(Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

]]>