Menghias Diri dengan Husnul Khuluq

1292

Husnul Khuluq menjadi perhatian yang sangat penting akhir-akhir ini, khususnya di dunia pendidikan. Mencuatnya beberapa kasus moral di sekolah international yang belum hilang dari ingatan kita, kekerasan pada anak yang pelakunya adalah temannya sendiri dan sekian banyak kasus lainnya membuat hati kita miris mendengarnya. Para pakar pendidikan berlomba-lomba menyampaikan argumen mereka tentang kesalahan dan kebobrokan pendidikan di negeri ini. Pengawasan yang kurang, gaji guru yang tidak sesuai, hingga bangunan yang sangat jauh dari ideal menjadi kambing hitam. Sampai pula pada kesimpulan yang disepakati bersama bahwa pendidikan di negeri ini sangat kurang perhatiannya terhadap permasalahan akhlak.

Dalam Islam akhlak merupakan perkara yang sangat penting. Husnul khuluq sangat erat kaitannya dengan ketakwaan. Sering sekali kita mendapatkan Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam menggabungkan husnul khuluq dan ketaqwaan dalam setiap nasehatnya. Seperti hadits berikut ini:

 “Suatu hari beliau shallallahu ‘alahi wa sallam berpesan kepada Mu’adz bin Jabal dan berkata: wahai Mu’adz sembahlah Alloh dan janganlah kamu menyekutukannya. Mu’adz berkata: wahai Rasulullah, tambahkanlah lagi (nasehatmu) untukku! Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Mu’adz! Istiqomahlah kamu dan perbaikilah akhlakmu !”

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh salah seorang sahabat: Wahai Rasulullah “Apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga? Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan Husnul Khuluq : berakhlak yang baik).”( H.R. Tirmidzi)

Pengertian Husnul Khuluq

Kata khuluq (خُلُـــق) menurut para ulama adalah gambaran batin mausia[1] . Hal itu karena manusia memiliki dua gambaran, pertama gambaran zhahir yaitu tubuh manusia yang bisa terlihat. Yang ke dua adalah gambaran batin.

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa zhahir manusia ada yg baik, ada juga yang buruk atau ada yang sedang, demikian juga batin manusia, ada yang baik ada juga yang buruk.

Husnul Khuluq, anugerah atau diusahakan ?

Murah senyum termasuk akhlak yang baik. Sering kita mendapatkan seorang muslim mudah sekali tersenyum, sementara ditempat lain ada juga seorang muslim yang mahal sekali senyumnya. Lalu apakah seseorang dilahirkan sudah memiliki akhlak yang baik atau harus berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkannya? Untuk jawabannya marilah kita perhatikan hadits berikut:  berkata Rasulullah SAW kepada Asyaj bin Qois :

“Sesungguhnya padamu ada dua hal yang mana Allah mencintai keduanya, yaitu sifat lembut dan tenang (tidak tergesa-gesa). Lalu Asyaj berkata: wahai Rasulullah apakah aku berusaha untuk mendapatkan keduanya ataukah Allah yang menganugerahkan keduanya untukku? Rasulullah menjawab: Allah lah yang menganugerahkannya kepadamu.” (HR. Abu Dawud).

Pertanyaan Asyaj menunjukkan bahwa akhlaq yang baik didapatkan manusia melalui keduanya, anugerah dan usaha. Berbahagialah mereka yang mendapatkan anugerah husnul khuluq dari Allah SWT.

Ruang Lingkup Husnul Khuluq

Sebagian besar umat Islam menganggap bahwa husnul khuluq hanya terbatas pada bab mu’amalah (interaksi) dengan sesama makhluk saja. Padahal mu’amalah dengan Sang Khaliq juga haruslah dengan husnul khuluq.

Husnul khuluq terhadap Allah dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Membenarkan semua informasi yang datang dari Allah SWT tanpa meragukannya sedikitpun.
  • Melaksanakan semua hukum-hukum yang datang dari Allah SWT.
  • Menerima takdir dari Allah dengan sabar dan ridha.

Adapun husnul khuluq terhadap makhluk, pendapat Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah dapat kita jadikan sebagai rujukan. Beliau mengatakan bahwa husnul khuluq adalah:

  1. (كف الأذى) Tidak menyakiti orang lain
  2. (بذل الندى) Mengerahkan semua yang kita miliki untuk kebaikan, baik jiwa, kedudukan termsuk harta kita
  3. (طلاقة الوجه) Wajah yang berseri-seri

Berlomba-Lomba Mendapatkan Husnul Khuluq

Memiliki akhlak yang baik akan membawa seseorang pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk saling berlomba untuk meraihnya. Dengan husnul khuluq seorang muslim akan mendapatkan keridhaan seluruh makhluk, dengannya pula ia akan mendapatkan keridhaan Sang Kholiq dan memiliki rumah di surga yang paling tinggi.

Mengejar dunia tidak ada habisnya, di saat yang sama sifat dunia yang fana, menipu, akan menjerumuskan pencarinya ke lembah kesengsaraan yang dalam di dunia dan akhirat.

عن النبي   أنه قال: “إن الله سبحانه قسم بينكم أخلاقكم كما قسم بينكم أرزاقكم، وإن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لا يحب، ولا يعطي الدين إلا من يحب، فمن أعطاه الله الدين فقد أحبه” – رواه أحمد –

Dari Nabi  Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah membagi diantara kalian akhlak-akhlak kalian sebagaimana Dia membagi diantara kalian rizqi-rizqi kalian. Dan Allah memberikan dunia kepada yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya. Dan Allah tidak memberikan agama ini kecuali kepada yang dicintai-Nya, maka barang siapa yang telah diberi agama oleh Allah, maka Allah telah mencintainya.

Derajat agama seorang hamba menjadi barometer kecintaan Allah kepadanya. Semakin baik agama seorang hamba maka semakin baik pula akhlaknya. Semakin bertakwa seorang hamba maka akan membuahkan akhlak yang baik dan semakin dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala.

والله أعلم بالصواب

Oleh: Ustadz Apip Najaruddin, Al-Hafidz

Dimuat di Buletin Risalah Qur’an edisi 02| Jumadits Tsani 1437 H | April 2016 M

[1] Syaikh Utsaimin, Makarim Al-Akhlaq, hal:7

SHARE