Memaksimalkan Pemberian

437

Ada seseorang yang membeli i-Phone 6. Kita semua tahu, bahwa produk keluaran Apple pasti berbanderol tinggi. Jika harganya mahal, pasti ada ‘keistimewaan’ di dalamnya. Tapi apa jadinya jika pemilik i-Phone 6 tersebut menggunakan ponsel pintar itu hanya sebatas telepon dan berkirim pesan singkat atau SMS? Bukankah berkamera 8 MP yang bisa meng-capture gambar dengan sempurna? Bukankah i-Phone 6 memiliki berbagai macam fitur yang bisa membuat kita ‘kewalahan’?

Ada lagi. Seorang yang telah lama memiliki Pajero Sport, tapi hanya dipajang di halaman rumahnya. Paling jauh, nganter anaknya sekolah. Itupun masih di dalam kota. Lalu, buat apa fungsi uang 400an juta yang ditukarkan dengan mobil keren itu? Bukankah ban besarnya kuat untuk touring Jawa-Bali? Belum lagi bagasi atasnya yang kuat untuk menampung sepeda anggota keluarga.  Sangat disayangkan dengan kapasitas BBM 70 Liter hanya untuk nganter anak ke sekolah.

Dan masih banyak lagi..

Kita semua tau, bahwa barang yang mahal pasti ada kegunaan lebihnya. Ada harga, ada rupa. Tak sedikit dari kita yang rela mengeluarkan rupiah lebih untuk menikmati berbagai fasilitas yang telah disediakan. Tapi, bagaimana jika kita tidak memaksimalkan fungsi atau fasilitas yang ada?

Begitu pula dengan ahlul qur’an. Udah mahal-mahal Allah kasih nikmat tersebut, masa kita cuma diem aja? Orang-orang pilihan Allah tersebut seharusnya bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Mereka sudah punya al-Qur’an. Sesuatu yang mahal, dan tidak semua orang diberi anugerah untuk menghafalkannya. Tinggal bagaimana mereka memaksimalkan pemberian mahal tersebut.

Sayangnya, tak sedikit dari mereka yang kurang yakin akan kemampuannya. Mungkin beberapa dari mereka berpikir “ah..paling-paling ntar aku juga jadi guru TPA..” atau “ntar aku di rumah aja, ngurus rumah, ngurus anak..”. Menjadi penghafal al-Qur’an tidak berhenti setelah kita mengkhatamkannya. Bagi para ibu, jangan berpikir seperti contoh di atas. Kita bisa menyelami keindahan bahasa dan kisah-kisah dalam al-Qur’an, lalu membaginya dengan buah hati kita. Atau menulisakannya agar menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati sesama.

Bagi para ikhwan, al-Qur’an tidak berhenti di hafalan saja. Kita bisa mengexplore ilmu-ilmu sains yang ada di dalam al-Qur’an. Setelah ilmu ‘laba-laba betina yang membuat sarang’ ditemukan oleh orang non-muslim (tentu al-Qur’an lebih dulu, namun kita telat menyadari), seharusnya kita yang lebih percaya diri mendalami al-Qur’an. Pasti di sana banyak temuan-temuan baru yang belum terungkap oleh orang barat.

Jika tak ada greget atau minat di bidang sains, bukan berarti kita berhenti memperdalam ilmu al-Qur’an. Kita bisa membaca tafsirnya, lalu menyampaikannya kepada masyarakat. Atau kita bisa mencoba mengurai i’rob al-Qur’an dan menyampaikannya kepada teman atau kerabat yang paham tentang I’rob al-Qur’an. Apapun ilmu itu, jangan sampai berhenti di kita.

Allah telah memberikan nikmat agungNya kepada kita, yaitu al-Qur’an. Tidak semua orang bisa menikmati indahnya proses menghafal dan memuraja’ah al-Qur’an. Al-Qur’an mengandung segala yang ada. Perbekalan hidup hingga akhir zaman.  Tinggal bagaimana kita, apakah memaksimalkan potensi yang ada atau terlena atas nikmat dan karuniaNya.

Wallahua’lam..

Ditulis oleh Mahasiswi STIQ Isy Karima

SHARE