Wanita Bermahar Islam

189

Pada umumnya mahar yang diberikan kepada seorang wanita ketika menikah adalah emas maupun uang. Tapi tidak dengan wanita yang satu ini. Beliau adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, ibu dari pelayan Rasulullah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang namanya. Ada yang mengatakan bahwa nama beliau adalah Ummu Sulaim al-Ghumaisha. Ada pula yang mengatakan namanya adalah Rumaisha, Sahlah, Unaifah atau Rumaitsa. Beliau adalah anak perempuan dari Milhan bin Kholid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin ‘Amir bin Gonm bin ‘Adiy bin an-Najar al-Anshoriyyah al-Khazrajiyyah.

Beliau adalah seorang wanita penghuni surga. Tsabit meriwayatkan dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika aku masuk Jannah aku mendengar suara di depanku, ternyata saat itu aku bersama dengan al-Ghumaisha’ binti Milhan.” (HR Bukhari 3679 berderajat shahih)

Beliau adalah salah satu dari orang-orang yang awal masuk Islam. Beliau adalah saudari dari Ummu Haram binti Milhan, istri dari Ubadah bin Shamat. Beliau menikah dengan Malik bin Nadhr, ayah dari Anas bin Malik. Ketika dakwah Islam terdengar oleh Ummu Sulaim, segeralah ia dan kaumnya menyatakan keislamannya. Ummu Sulaim menawarkan Islam kepada suaminya yang ketika itu masih musyrik. Namun diluar dugaan, Malik justru marah kepadanya dan meninggalkannya. Malik akhirnya pergi ke negeri Syam dan meninggal di sana.

Setelah Malik bin Nadhr meninggal, Ummu Sulaim dipinang oleh Abu Thalhah Zaid bin Sahl al-Anshory. Pada waktu itu Abu Thalhah belum Islam. Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab sunannya ketika Abu Thalhah meminang Ummu Sulaim, beliau berkata :”Demi Allah tak ada satupun alasan yang bisa membuatku menolak lamaranmu itu. Namun sangat disayangkan sekali, engkau adalah seorang kafir, sedang aku adalah seorang Muslim. Oleh karena itu, aku tak mungkin menikah denganmu. Seandainya engkau bersedia masuk Islam, itu akan aku anggap sebagai maharku, dan aku tak akan meminta selain dari itu.” Mendengar perkataan itu Abu Thalhah bersedia masuk Islam dan keislamannya dianggap sebagai mahar bagi Ummu Sulaim.

Dari pernikahannya dengan Abu Thalha, Ummu Sulaim dikaruniai dua orang anak, Abu ‘Umair dan Abdullah bin Thalhah. Namun sayang Abu ‘Umair tidak berumur panjang. Ia dipanggil Allah ketika masih kanak-kanak. Anas bercerita, “Suatu ketika Abu ‘Umair sakit parah. Ketika adzan Isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke masjid. Dalam perjalanannya ke masjid, anaknya, Abu ‘Umair, meninggal.

Ummu Sulaim langsung mendandani jenazah anaknya lalu membaringkannya di tempat tidur. Ia berpesan kepada Anas agar tidak memberi tahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya itu. Ketika Abu Thalhah pulang dari masjid, Ummu Sulaim menyiapkan dan menghidangkan makan malam untuk suaminya. Ummu Sulaim melayani Abu Thalhah sebaik mungkin. Setelah Abu Thalhah merasa kenyang dan puas dengan pelayanan istrinya, di akhir malam Ummu Sulaim pun berkata kepadanya :”Ya Aba Thalhah, bagaimana menurutmu keluarga si Fulan? Mereka meminjam sesuatu dari orang lain tapi ketika diminta mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”

“Mereka telah berlaku tidak adil”, ucap Abu Thalhah. Ummu Sulaim pun berkata :”Ketahuilah, sesungguhnya puteramu adalah pinjaman dari Allah dan kini Allah telah mengambilnya kembali. Mendengar berita itu Abu Thalah mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan hamdalah (alhamdulillah).

Keesokkan harinya Abu Thalhah menghadap Rasulullah dan mengabarkan apa yang terjadi. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.” Setelah itu Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang diberi nama Abdullah. Ketika Ummu Sulaim melahirkan, beliau mengutus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah. Anas berkata: “Wahai Rasulullah, Ummu Sulaim melahirkan tadi malam.” Kemudian Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut. Anas berkata: “Namailah dia wahai Rasulullah!” Rasulullah bersabda: “Namanya Abdullah.”

Ummu Sulaim bukan hanya seorang da’iyah yang bijaksana, beliau juga seorang mujahidah pemberani. Walaupun beliau seorang wanita, beliau ikut berperang bersama Rasulullah dan kaum Muslimin. Ketika perang Hunain beliau membantu mengobati para mujahid yang terluka. Ummu Sulaim juga mempersiapkan diri untuk melawan dan menghadapi musuh yang hendak menyerangnya. Dalam sebuah riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Sulaim membawa pisau pada perang Hunain. Kemudian Abu Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah ini Ummu Sulaim membawa pisau.” Kemudian Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek perutnya dengan pisau ini.”

Anas berkata: “Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka”.

Dialah Ummu Sulaim, seorang wanita dengan mahar Islam. Seorang istri shalihah yang berani turun ke medan perang melawan orang-orang Kafir. Seorang ibu penyayang yang menghibahkan anaknya untuk dididik oleh Rasulullah. Alangkah mulianya dirimu wahai Ummu Sulaim. Semoga beliau bisa menjadi teladan bagi kita para muslimah.

Wallahu ta’ala a’lam

Sumber :

  • Siyaru a’lam an-Nubala, Sheikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qoymaz adz-Dzahab
  • Mawar-mawar Padang Pasir, Ali bin Nayyif asy-Syuhud

Ditulis oleh Imanulfa, Mahasiswi STIQ Isy Karima

BAGIKAN