Untukmu Wahai Haamilul Qur’an

136

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab samawi yang akan abadi. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berjanji pada diri-Nya sendiri, untuk menjaga serta memeliharanya sampai habis masa nanti.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَى وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

“Sungguh Kami telah menurunkan al-Qur’an dan sungguh Kami pasti menjaganya.” (Qs. Al-Hijr : 9).

Al-Qur’an pula satu-satunya kitab suci yang dibaca, dihafal, serta dinikmati semua orang dari ummat nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, jika dibandingkan dengan nabi-nabi sebelum beliau. Otomatis al-Qur’an juga menjadi bukti kemukjizatan Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan al-Qur’an kita dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil.  Ia juga merupakan instrument taqorrub para ahli ketaatan dan tempat berlabuh para pencintanya.

Seorang salaf pernah berkata :

            “Apabila kalian ingin berdialog dengan Rabb, atau Rabb-mu ingin berdialog denganmu, hendaknya kamu membaca al-Qur’an.”

            Banyak kisah-kisah yang bercerita dan berkaitan dengan al-Qur’an itu sendiri. Ada mereka yang tengah terserang penyakit, dapat sembuh dengan al-Qur’an. Sebagaimana kalamullah:

وَنُنَزِّل مِنَ القُرْأَنِ مَا هُوَ شِفآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَلَايّزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَاراً

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang dzalim (al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (Al-Isra’ : 82).

Mereka yang ingin rumahnya berbarokah, cukup melafazhkan :

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

“Wahai Rabbku tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (QS. Al-Mu’minun : 29)

Tak ketinggalan bagi mereka yang menginginkan jodoh, lafazhkan saja ayat yang bunyinya :

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا

“Wahai Rabbku janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri..” (QS. Al-Anbiyaa : 89)

Dengan al-Qur’an dunia serasa hanya dalam genggaman kita. Seperti yang pernah dikatakan salah seorang guru kami, “Dengan al-Qur’an segalanya bisa, tinggal kita mau apa”. Satu hal saja yang perlu digaris bawahi, jika kita bisa istiqomah serta menjaga keikhlasan, apa yang dituliskan tadi dapat anda buktikan. Tapi, semua itu tidak lepas dari ridho Allah ta’ala semata tentunya. Tak heran kalau menjadi Haamilal Qur’an adalah sebuah pilihan yang amat menguntungkan.

Siapakah Haamilul Qur’an itu? Haamilul Qur’an adalah mereka yang senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an, membacanya pagi dan malam, mengamalkan isi al-Qur’an, menghafalkan ayat demi ayatnya, mempelajari dan menelaah ayat demi ayatnya, serta mereka yang mengajarkan al-Qur’an.

Namun, tahukah Anda, bahwa golongan manusia yang pertama kali masuk neraka sebelum Fir’aun dan Abu Jahal, serta pengikut mereka, adalah para Haamilul Qur’an. Lalu setelah itu para mujahid, dan mereka yang salah dalam berniat. Mungkin termasuk diantara mereka adalah orang-orang yang tertipu dengan amalnya.

Kita tahu bahwasanya setan tidak akan pernah berhenti menjerumuskan anak Adam untuk mengikuti jejak mereka. Tipu daya setan untuk para Haamilul Qur’an lebih besar. Setan membisikkan sedikit demi sedikit kesombongan di telinga mereka. Tak jarang niat yang awalnya benar justru malah melenceng. Akhirnya sikap riya’, ujub dan kawan-kawannya pun muncul. Padahal Rasulullah berkata bahwasanya orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi tak akan masuk surga.

Setan juga mencoba membisikkan sikap ‘husnuzhon’ pada Haamilul Qur’an. Husnuzhon bahwasanya amalan mereka akan diterima semuanya. Segala dosa mereka akan terampuni. Toh al-Qur’an sudah dihafal. Bukankah orang yang menghafal al-Qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang terkhususNya?

Saudaraku, menjadi seorang Haamilul Qur’an bukanlah jaminan seseorang untuk masuk surga manakala dirinya tetap bermaksiat bahkan melanggar syariat. Tapi menjadi seorang Haamilul Qur’an merupakan suatu upaya untuk memantaskan diri meraih karunia Allah dan menjadi penghuni surga.

Hendaknya bagi kita hamba yang tiada daya dan kuasa. Janganlah terlalu berhusnuzhon pada diri sendiri. Adapun jika seseorang itu berhusnuzhon kepada Allah, maka ia kan memperbanyak perbuatan-perbuatan baiknya. Tapi, janganlah kita berhusnuzhon pada Allah untuk mengempuni segala dosa-dosa yang telah tercipta, Sedangkan kita secara sembunyi-sembunyi masih bermaksiat pada-Nya.

Wallahu a’lam bishowab

Ditulis oleh Layla Elfyah, Mahasantriwati STIQ Isy Karima

BAGIKAN