Pendidikan Gaza Selama Dikepung 10 Tahun

414

JAKARTA, Jum’at (Sahabat Al-Aqsha): Jalur Gaza pertama kali dikepung sejak 26 Juni 2006. Apabila negeri Anda dikepung dan terus menerus diteror dan diserang oleh penjajah sementara jiwa dan wawasan Anda sempit, maka seluruh bidang kehidupan Anda akan menyempit dan menyesakkan hati, lalu ujungnya Anda menyerah. Pasrah. Kalah. Satu orang kalah. Dua orang, tiga, seratus, lima ribu orang kalah, seratus ribu orang kalah, sejuta orang kalah, menyerah, frustrasi, akhirnya seluruh negeri Anda berisi orang yang pasrah kepada penjajah yang mengepung. Kepasrahan Anda itulah persis yang diinginkan oleh penjajah. Lebih cepat lebih baik. Sedikit lebih lama pun tak mengapa.

Jalur Gaza tidak demikian. Sebelum kepungan internasional itu menyesakkan dada dimulai sejak 26 Juni 2006, Gaza meluaskan cakrawala pandangnya dalam segala bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Istilah dan lembaga pendidikan yang sudah ada definisinya di negara lain, di Gaza menemukan makna barunya.

Universitasnya
Berapa universitas di dunia yang gedungnya pernah empat kali dihancurkan oleh agresi militer sepanjang 10 tahun? Pengelola universitas ini tidak menghabiskan waktu dengan mengecam atau berkeluh kesah, mereka langsung membangun lagi, dan sibuk dengan kegiatan ilmiah dan akademik lagi, bahkan jumlah mahasiswa dan lulusannya terus bertambah pesat.

Inilah Universitas Islam Gaza (UIG), universitas swasta terbesar di Palestina. Universitas nomor dua terbaik di Palestina (menurut rekapitulasi data oleh Webometrics) posisinya hanya disaingi oleh Universitas Birzeit di Tepi Barat. Rektor UIG Jamal Choudary adalah juga Ketua Masyarakat Palestina Melawan Blokade Gaza.

Selain prestasi akademis dan ranking-nya yang baik, Universitas Islam Gaza dibedakan dengan universitas lain karena doktrin muqawamah-nya (perlawanan). Secara alamiah universitas yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Yasin pada tahun 1983 ini membawa ruh perlawanan terhadap penjajah. Kuliah-kuliah pertama dilakukan di kemah-kemah pengungsi, dibimbing para dosen yang juga terusir dari rumah-rumahnya.

Setiap kali melakukan wisuda, UIG selalu juga mewisuda orang tua atau wali mahasiswa yang gugur akibat agresi militer penjajah Zionis ‘Israel’. Seakan lewat wisuda in absentia itu mereka berkata kepada para agresor, “bunuhilah kami, hancurkanlah gedung-gedung kami, jiwa kami terus hidup, membanyak, dan semakin dimuliakan di universitas ini.”

Sekolah-sekolahnya
Sejak sepuluh tahun lalu, sekolah-sekolah di Jalur Gaza berfungsi dua: menjadi tempat belajar dan menjadi tempat mengungsi di saat agresi militer penjajah ‘Israel’ terjadi. Menurut UNRWA (United Nations Relief and Works Agency) badan dunia untuk bantuan bagi pengungsi Palestina, sampai hari ini, masih ada lebih dari 75 ribu orang warga Gaza yang belum memiliki tempat tinggal sendiri, akibat rumah-rumah mereka dihancurkan penjajah Zionis ‘Israel’, pada musim panas 2014.

Sebagian mereka tadinya mengungsi di gedung-gedung sekolah terutama milik UNRWA. Namun, gedung sekolah di Gaza juga bukan tempat yang aman dari kejahatan militer penjajah Zionis ‘Israel’. Hasil penyelidikan Human Rights Watch (HRW), selama agresi musim panas 2014, penjajah Zionis ‘Israel’ sedikitnya melakukan serangan sengaja ke tiga gedung sekolah UNRWA yang jadi tempat mengungsi. Yaitu, sekolah UNRWA di Beit Hanun pada 24 Juli, di Jabaliya pada 30 Juli, dan di Rafah pada 3 Agustus 2014. Total tiga serangan itu membunuh 45 orang, 17 di antaranya anak-anak, serta puluhan lainnya luka-luka dan cacat permanen.

Biasanya, hari pertama sekolah sesudah agresi militer usai, ditandai dengan tulisan nama-nama siswa yang terbunuh, diletakkan di atas meja atau kursinya yang kosong.

Markaz Tahfizhul Qurannya
Menghafal Quran sudah menjadi bagian dari keimanan warga Jalur Gaza. Mereka semakin yakin bahwa menghafal dan mengamalkan Al-Quran, berhubungan langsung dengan kekuatan mereka melawan kepungan dan agresi militer penjajah. Bahkan lebih dari itu, mereka yakin hanya dengan Al-Quran, mereka akan ditolong Allah memenangkan perang panjang sampai Masjidil Aqsha dan seluruh Palestina merdeka.

Seakan aib bagi sebuah rumah jika tak ada satu pun penghuninya yang hafal Al-Quran. Masjid-masjid dan majelis-majelis selalu memiliki kelas reguler tahfizhul Quran yang sebagian besar siswanya anak-anak. Terutama di liburan musim panas.

Di samping sekolah, markaz-markaz tahfizhul Quran adalah kebun mahaluas tempat para ulama dan ustadz Gaza menanam dan memelihara tunas-tunas akhlaqul karimah kepada generasi baru Gaza. Akhlaqul karimah yang bukan cuma bermakna sempit berupa sopan santun, tapi juga kejujuran, pemihakan kepada kebenaran Islam, kesetiaan persaudaraan, keberanian, ketangguhan sabar, dan keinginan berkorban untuk mendapatkan janji-janji Allah dan Rasulullah di Syurga.

WHS1

Ibu-ibu dan Para Gadisnya
Ada satu direktorat khusus di pemerintahan Palestina di Gaza, bernama “Direktorat Kesejahteraan Perempuan”. Tugas pokok dan fungsi instansi ini ialah memperkuat sebanyak mungkin perempuan Gaza di segala usia dalam menghadapi kepungan dan agresi penjajah: ruhiyahnya, ilmunya, wawasannya, keterampilannya, keibuannya, sampai ketahanan ekonominya.

Saat kami berkunjung ke direktorat ini pada awal musim panas 2012, kami disambut oleh belasan perempuan yang sebagian besar bercadar. Mereka terbagi dalam divisi-divisi penguatan perempuan yang cukup komprehensif. Mulai dari pendidikan keputrian, public speaking, keterampilan tangan, ilmu-ilmu Al-Quran, sampai ilmu pengasuhan anak dan manajemen keuangan rumah tangga mereka siapkan materinya, dalam skala luas. Mereka miliki kantor cabang di 60 lokasi di seluruh Jalur Gaza.

Remaja dan Pemudanya
“Para Pengawal Kemerdekaan” begitulah judul pelatihan itu. Dilaksanakan setiap tahun di ujung musim panas oleh Brigade Asy-Syahid Izzuddin Al-Qassam, pelatihan ini memberikan pendidikan singkat selama sebulan kepada sedikitnya 25 ribu remaja putra berusia antara 14 sampai 25 tahun.

Pendidikan dan latihan kelaki-lakian ini meliputi ketahanan fisik, wawasan sosial-politik, keterampilan beladiri, kecekatan penggunaan senjata, dan berbagai materi lain yang diperlukan seorang laki-laki agar tidak gampang menyerah di negeri yang dikepung dan sering diserang penjajah.

Syarat mengikuti latihan ini, di antaranya hafal Al-Quran minimal beberapa juz terakhir, menjaga shalat fardhu berjamaah lima waktu, berakhlaq baik, dan lulus ujian wawancara. Saat diwawancarai stasiun televisi Aljazeera, seorang remaja bertubuh kecil menjelaskan dengan penuh semangat, “Saya yakin, in syaa Allah, saya memulai pelatihan ini sebagai remaja, tapi lulus nanti sebagai laki-laki pejuang yang siap ikut membebaskan Masjidil Aqsha dan seluruh Palestina dari penjajah.”

Penjajah Zionis ‘Israel’ ingin melemahkan dan membunuh akal dan jiwa warga Gaza. Lewat berbagai terobosan pendidikan, Allah memberikan yang sebaliknya. Penjajah Zionis ‘Israel’ ingin merampas satu demi satu seluruh hak asasi warga Gaza. Lewat berbagai terobosan pendidikan, warga Gaza semakin yakin, hak itu milik Allah dan hanya diberikan oleh Allah.

Ditulis oleh Wisnu Pramudya dan Santi Soekanto seperti dikutip pada laman sahabatalaqsha.com.

BAGIKAN