Kajian Keluarga Ma’had Bersama Ustadz Fadhlan Gharamatan

385
fadlan-gharamatan-isykarima

Ahad (17/9), merupakan Ahad ketiga di bulan September. Seperti biasanya setiap Ahad ketiga diadakan agenda rutin kajian keluarga Ma’had Isy Karima. Pemateri kajian keluarga bulan ini sangat spesial. Beliau adalah Ustadz Fadlan Garamatan dari Papua yang terkenal dengam sebutan Ustadz Sabun. Kajian keluarga kali ini tidak hanya diikuti oleh asatid, amil dan para keluarganya. Para santri dari unit STIQ, MATIQ, IMTAQ KIBAR dan IMTAQ SHIGHOR juga turut serta. Mengingat ini pertama kalinya Ustadz Fadlan berkunjung ke Ma’had Isy Karima, sayang rasanya kalau para santri tidak ikut beristifadah dengan pengalaman berdakwah beliau di pedalaman Papua.

Ustadz Fadlan menjelaskan sejarah masuknya Islam di Papua. Islam mulai masuk ke pulau Papua pada abad 12 tepatnya pada tanggal 17 Juli 1214 atas perintah Sultan Iskandar 2. Sedangkan agama Nasrani masuk pada tanggal 5 Februari 1855. Jadi sebenarnya Islam lah yang lebih dulu masuk ke Papua. Dulunya, pulau yang terletak di bagian timur Indonesia ini bernama Nuu Waar yang berarti Negeri yang menyimpan rahasia. Pemberian nama Papua sendiri mempunyai arti saudara tertua. Kemudian berganti nama menjadi Irian Jaya dan kembali lagi menjadi Papua saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Papua menjadi ‘lahan basah’ bagi para misionaris, mengingat kekayaan alam yang dimiliki Papua sangat banyak. Para misionaris bertindak kejam kepada masyarakat pedalaman Papua. Mereka mengajarkan rakyat Papua pedalaman untuk menggunakan koteka atas nama kebudayaan. Masyarakat Papua juga dilarang untuk mandi menggunakan sabun dan air bersih, tapi hanya boleh menggunakan minyak babi. Dan ketika seorang ibu melahirkan anaknya diperlakukan seperti halnya binatang. Para ibu melahirkan dibawah pohon, kemudian plasentanya dipotong menggunakan batu yang tajam. Dan saat ingin menyusui anaknya, para ibu hanya booleh menyusui anaknya melalui payudara sebelah kiri sedangkan yang sebelah kanan untuk menyusui anak babi. Astaghfirullahalazhim.

Hingga suatu saat datanglah Ustadz Fadlan Garamatan ke pedalaman Nuu War. Beliau mengajarkan masyarakat pedalaman Papua untuk membersihkan diri dan mandi menggunakan sabun. Ustadz Fadlan yang merupakan warga asli Papua, mengajak kepala suku untuk membersihkan diri. Dan ternyata sang kepala suku senang sekali dan bisa tidur nyenyak karena badan bersih. Kemudian kepala suku meminta rakyatnya untuk diajarkan mandi juga dengan sabun supaya bersih. Akhirnya Ustadz Fadlan bersama rombogannya, ditemani kepala suku mengajarkan mandi dengan sabun 3712 warga pedalaman Papua.

Saat sedang berlangsung ritual mandi ini, tibalah waktu dhuhur. Ustadz Fadlan bersama rombongan pun melaksanakan sholat dhuhur di atas panggung, karena di bawah sering digunakan babi dan anjing. Saat rombongan Ustadz Fadlan melaksanakan sholat, kepala suku dan warganya mengililingi panggung sambil memperhatikan gerakan-gerakan sholatnya. Usai sholat, kepala suku bertanya apa yang dilakukan oleh Ustadz Fadlan dan maksud dari gerakan-gerakan sholat tadi. Setelah menjelaskan gerakan-gerakan sholat tadi, akhirnya kepala suku takjub dan mengucapkan syahadat bersama 3712 warganya. Masya Allah…Allahu Akbar.

Dengan perjuangannya, Ustadz Fadlan Garamatan berhasil mengembangkan Islam di tanah Nuu Waar. Berkat perjuangannya itulah cahaya Islam bisa dirasakan oleh penduduk Nuu Waar. Melalui Islam lah penduduk Nuu Waar kini bisa terangkat derajatnya. Jika dulu banyak yang bertelanjang, jarang mandi dan tertinggal dalam segala hal. Kini perlahan mereka berubah menjadi makhluk yang mulia.

Semoga beliau bisa berkunjung lagi ke Ma’had Isy Karima dan berbagi kisah perjuangan dakwah beliau kepada para santri dan asatidz Isy Karima. Dan semoga Isy Karima bisa turut andil dalam dakwah di pedalaman Nuu War. Wallahu a’lam

[rep:rhm]

BAGIKAN