Ilmu Dan Hujan

260

Hujan.. bersamanya turun barakah. Bersamanya pula turun karunia melimpah. Padanya terdapat rahmat Illah. Karenanya pula pepohonan tumbuh subur disertai buah. Bumi yang mati pun hidup kembali karenanya. Oleh karena itu Rasul mengajarkan kita untuk bergembira kala hujan turun. Rasul juga mengajarkan kita untuk berdoa Allahumma shayyiban naafi’aan ‘Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang bermanfaat dan kebaikan.’

Tak heran jika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan hujan sebagai permisalan ilmu. Rasulullah bersabda :

و عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلام قال: مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

Dari Abu Musa al-Asy’ari rahdiyallahuanhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang naqiyyah, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib, maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an. Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim ini, Rasulullah memngumpamakan ilmu dan petunjuk (huda) dengan ghaits (hujan). Rasulullah di sini menggunakan kalimat ghaits bukan mathor. Padahal keduanya dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan ‘hujan’. Ghaits berbeda dengan mathor. Ghaits datang membawa manfaat, ia tidak rintik dan tidak pula deras, berbeda dengan mathor yang kebanyakan penyebutannnya dalam al-Qur’an sebagai azab.

Allah berkalam :

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (Asy Syuura: 28).

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.” (Yusuf: 49)

Pada dua ayat di atas Allah menggunakan kata ghaits untuk menggambarkan hujan. Karena setelahnya datang rahmat dan barakah. Berbeda dengan ayat berikut ini:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ

“Dan Kami hujani mereka (dengan hujan batu), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (Asy-Syu’araa:  173)

Allah menggunakan kata mathor dalam ayat di atas sebagai azab bagi kaum Nabi Luth. Mereka dihujani batu sebagai balasan perbuatan keji mereka yang melampaui batas.

Lantas mengapa Rasulullah harus memisalkan ilmu dengan hujan? Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab الرسالة التبوكية = زاد المهاجر إلى ربه mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan ilmu yang beliau bawa dengan hujan, karena keduanya merupakan sebab adanya kehidupan. Hujan adalah sebab hidupnya jasad, adapun ilmu adalah sebab hidupnya hati. Dan hati dimisalkan dengan lembah. Allah berkalam dalam surat ar-Ra’du ayat 17 :

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.”

Ada tiga jenis tanah yang disebutkan dalam hadits di atas. Yang pertama adalah naqiyyah yaitu tanah yang baik dan dapat menyerap air, sehingga tumbuhlah tanaman dan rerumputan. Kala hujan turun, tanah ini menyerap airnya sehingga berbagai tanaman dan rerumputan dapat tumbuh di atasnya. Dari tanaman-tanaman itu makhluq lain bisa mengambil manfaatnya, baik manusia maupun hewan.

Hujan yang turun ibarat ilmu, sedangkan tanah ibarat hati manusia. Ada orang yang memiliki kepribadian layaknya naqiyyah ini. Tatkala ia mendapatkan ilmu maupun petunjuk, ia akan menyerap dan menjaga ilmu itu layaknya tanah naqiyyah menyerap tetesan air hujan. Tidak hanya menjaga ilmu yang didapat tetapi juga mengamalkan ilmunya dalam kehidupan. Ia juga mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Sehingga ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Jenis tanah kedua adalah ajadib, yaitu tanah yang hanya bisa menampung air sehingga makhluq lain dapat memanfaatkan air yang ditampungnya. Sayangnya tanah ini tidak dapat menyerap air dan tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri.

Ada juga manusia bertipe seperti tanah ajadib ini. Otaknya cerdas dan hafalannya baik. Bahkan bisa jadi ia adalah gudangnya ilmu. Orang lain bisa mengambil manfaat dari ilmu yang dimilikinya. Tapi sayang, ilmu yang ia miliki hanya bersemayam di otak tidak teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmunya hanya bisa dimanfaatkan orang lain, sementara ia-nya sendiri tidak mengambil manfaat apapun diri ilmu itu. Orang lain dapat mengambil manfaat dari ilmu yang dimilikinya.

Dan jenis tanah ketiga yang disebutkan pada hadits di atas adalah qii’aan, yaitu tanah yang tidak bisa menampung dan tidak juga menyerap air. Tanah ini adalah tanah tandus. Tanaman atau rerumputan pun enggan tumbuh di atasnya. Makhluq lain juga tidak dapat mengambil manfaat darinya.

Ternyata ada pula manusia bertipe seperti tanah ajadib ini. Ilmu yang dimilikinya sedikit, dan tidak dapat membawa manfaat apapun bagi dirinya. Orang lain juga tidak dapat memanfaatkan ilmu yang dimilikinya.

Manusia memiliki karakteristik yang beraneka ragama. Ada orang berilmu yang gemar mengamalkan dan mengajarkan ilmunya. Orang ini seperti tanah naqiyyah yang bisa memberi manfaat bagi dirinya juga makhluq lain di sekitarnya. Ada juga orang yang gemar mengumpulkan ilmu. Setiap seminar atau kajian ia hampiri. Ilmu yang ia dapat ia hafal dan bukukan dengan rapi. Sehingga orang lain bisa memanfaatkan ilmunya dan menjadikannya sebagai sumber ilmu. Tapi sayang ilmu yang didapatnya hanya dikoleksi tidak diamalkan. Mirip dengan tanah ajadib yang hanya bisa menampung air hujan, sehingga makhluq lain bisa memanfaatkannya. Tapi sayang dirinya sendiri tidak dapat mengambil manfaat apapun.

Dan ada juga tipe orang yang mendengar ilmu, namun tidak menghafalkannya, tidak mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain. Orang ini tidak dapat memberi manfaat bagi dirinya maupun orang lain. Sama dengan tanah qii’an, ketika hujan turun ia tidak menyerap air hujan. Tumbuhan dan rerumputan enggan tumbuh di atasnya.

Dari ketiga tanah di atas, manakah yang Anda pilih? Semoga kita bisa menjadi seperti naqiyyah yang bisa memberi manfaat bagi dirinya maupun orang lain. Aamiin.

Wallahu ta’ala a’lam

Sumber :

  • Adaabu Tholib al-‘Ilmi, Dr. Anas Ahma Karzoun
  • Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim, Imam an-Nawawi
  • Zaadu al-Muhaajir ilaa Rabbihi, Ibnul Qayyim al-Jauzi
  • Fathu al-Baari, Ibnu Hajar al-Atsqalani
BAGIKAN