Dauroh Ilmiah 2 Menara Kitab Safinatun Najah Bersanad

198
dauroh safinatun najah isykarima

Selasa (03/10/2017) Dauroh Ilmiah 2 Menara Bersanad Kitab Safinatun Najah di Ma’had Isy Karima berakhir dengan lancar, yang telah berlangsung dalam 7 sesi dari hari senin pagi (2/10) sampai dzuhur (3/10). Dauroh diisi oleh KH. Drs. Zainal Arifin Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo, Jombang, Jember, Jawa Timur. Acara tidak hanya dihadiri dari Asatidzah dan masyarakat umum yang berasal dari Solo Raya, tapi menyebar dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa barat, Bogor dan ada yang datang dari Pekan Baru, Riau dan Sumatera. Pada kesempatan ini peserta dibatasi 50 orang.

Ustadz Ageng, selaku moderator acara dalam pembukaannya menjelaskan bahwa acara ini terselenggara atas nasihat Ust Syihabuddin selaku ketua Yayasan Sosial dan Pendidikan Isy Karima untuk mengadakan dauroh tersebut. Harapannya Mahad Isy Karima menjadi tempat keilmuan yang luas. Membuka cakrawala ilmu pengetahuan Agama yang tidak terkotak-kotak dengan golongan tertentu.

Kitab Safinatun Najah adalah sebuah kitab ringkas yang sudah sangat terkenal di penjuru dunia. Kitab ini berisi mengenai dasar-dasar ilmu fikih menurut mazhab Syafi’i. Kitab ini ditujukan bagi pelajar dan pemula yang hanya berisi kesimpulan hukum fikih saja tanpa menyertakan dalil dan dasar pengambilan dalil dalam penetapan hukum. Acara dauroh ini merupakan langkah awal untuk agenda-agenda dauroh kitab bersanad lainnya, maka dari itulah dimulai dari membahas kitab-kitab kecil yang ringkas terlebih dahulu.

Ust. Syihabuddin Abdul Muiz, dalam sambutannya menjelaskan beberapa poin latar belakang kenapa diadakan dauroh tersebut. Latar belakang tersebut diantaranya adalah untuk mengetahui bagaimana teknik pengajaran para Kiyai zaman dulu. Maka di 3 sesi awal, acara dauroh menggunakan teknik membaca sebagaimana kebiasaan pesantren salafiyah dengan membaca kitab dan diartikan dengan bahasa jawa dan nahwu sorofnya sekaligus. Latar belakang selanjutnya adalah untuk mengenal kitab yang sudah disusun secara sungguh-sungguh dan ilmiah oleh Ulama kita yang untuk membimbing masyarakat. Pengunaan kitab tersebut pun rekomendasi dari Masyaikh dari Madinah ketika berkonsultasi kurikulum pengajaran fikih yang baik apa, dijawablah Kitab Safinatun Najah.

Setelah itu, beliau menjelaskan tentang keinginan membudayakan kajian bersanad. Karena zaman sekarang melihat banyak perselisihan terjadi karena banyak yang belajar tidak memakai sanad. Selain mengambil berkah dari Kyai dan Ulama kita, kajian bersanad pun penting untuk pertanggungjawaban keilmuan kita dihadapan Allah kelak di yaumil akhir dan meneladani para Ulama zaman dulu yang mempunyai kebiasaan menghatamkan kitab-kitab berkali-kali.

Ust Syihab juga menjelaskan, bahwa kita tidak hanya akan belajar kitab-kitab syafi’iyah, namun juga kitab-kitab madzab lain perlu untuk dipelajari. Tidak hanya kitab kecil tapi juga kitab yang besar. Dalam rangka membuka keilmuan yang luas antar madzab, sebagai jalan untuk saling memahami dan menuju persatuan umat Islam. [] (DN)

BAGIKAN