Andai dan Andai

321

“Yah… coba tadi aku pulang terakhir, pasti aku dapet souvenirnya deh..!”

“Hussssh… Rasulullah melarang kita untuk beranda-andai.”

“Enggak koq, ini kan bukan berandai-andai. Buktinya nggak ada kata ‘andai’-nya.”

“Terus maksud kalimat itu apa coba? Per-andai-an kan?”

Kenyataan yang tak sesuai dengan harapan terkadang membuat seseorang gigit jari. Tak heran kalau akhirnya pikirannya melayang-layang dan terjebak dalam ilusi perandaian. Andai aku seperti ini, andai kamu nggak kaya gitu, andai saya kemarin begini, dan andai-andai lainnya. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk berandai-andai? Ada yang salahkah dengan andai-andai?

Kawan.. berandai-andai ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai keinginan akan membuka pintu setan. Karena berandai-andai ini dapat menyebabkan seseorang mudah mencac, lemah semangat, marah, was-was, merana dan sedih. Ini adalah tipu daya setan untuk menggoda anak Adam supaya rela menemaninya di tengah panas neraka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله، ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل: لو أني فعلت، لكان كذا وكذا، ولكن قل: قدر الله، وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan setan. (HR. Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan maksud hadits ini adalah bahwasanya yang diwajibkan setelah takdir terjadi adalah menerima keputusan Allah subhanahu wa ta’ala. Ridho dan tidak usah memperhatikan apa yang telah berlalu. Karena jika disebutkan apa yang telah berlalu maka ia akan berkata: ‘Andaikan aku lakukan ini tentu akan begini‘ maka bisikan setan akan masuk dan itu berkelanjutan hingga menimbulkan penyesalan.

Karena itu, dia akan menentang takdir yang telah terjadi akibat pengandaian. Inilah amalan setan yang kita dilarang melakukannya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan katakan andaikan karena akan membuka pintu amalan setan.” namun maksud hadits ini bukanlah tidak dibolehkannya secara mutlak mengucapkan andaikan, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengucapkannya pada beberapa hadits. Hanya, pengucapan andaikan secara mutlak dilarang apabila pemutlakkan itu mengindikasikan penolakan takdir.” (lihat Fathul Bari: 15/147)

Lantas apa yang harus kita lakukan saat keinginan tak sesuai dengan kenyataan? Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar melihat kejadian itu dari sudut pandang takdir. Yakinlah bahwa apa yang sudah Allah takdirkan pasti akan terjadi. Semua telah tertulis di lauhul mahfuzh. Bahkan sebuah gigi yang tanggal sekalipun sudah tertulis dengan rapi di lauhul mahfuzh. (postingan Evie Alveoli) Tak seorangpun yang sanggup menghalau dan menolaknya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan, ketika kita menjumpai suatu kegagalan atau mendapat suatu musibah, hendaklah kita mengucapkan ucapan yang baik dan bersabar. Tak lupa untuk selalul mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah.

Kawan.. iman kepada takdir adalah salah satu pilar Islam. Kita harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi telah diketahui oleh Allah sebelum hal itu terjadi. Pena takdir telah diutus Allah untuk mencatat segala peristiwa yang akan terjadi hingga hari kiamat, jauh 50 ribu tahun sebelum bumi dan langit diciptakan. Kehendak Allah pasti akan terlaksana dan tidak ada satupun yang bisa mengelaknya.

Pengandaian ini ternyata ada beberapa macam, ada pengandaian yang dilarang, tapi ada juga yang tidak. Pertama adalah apabila andai yang digunakan untuk menentang syariat. Misalnya pada perang Uhud, Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafik  yang mengundurkan diri dari pasukan beserta sepertiga kaum muslimin. Ada kurang lebih 70 kaum Muslimin yang mati syahid kala itu. Abdullah bin Ubay dan rekan-rekannya mencemooh dengan mangatakan: “Andaikan mereka menaati kami dengan kembali ke Madinah, niscaya mereka tidak terbunuh. Pendapat kami lebih baik dari syariat Muhammad.” Ucapan pengandaian seperti ini dilarang.

Kisah ini Allah abadikan dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 168.

الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“(orang munafik) merekalah yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “ANDAIKAN mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.”

Pengandaian yang kedua adalah pengandaian untuk menentang takdir. Jumhur ulama bersepakat bahwa pengandaian seperti ini hukumnya haram. Misalnya ketika kita kehilangan kesempatan menguntungkan dalam hidup kita kemudian berucap : “Andai tadi aku ikut ke seminar, pasti aku dapet buku juga.”

Pengandaian seperti ini juga biasa dilakukan oleh orang munafik dan orang-orang kafir. Allah menceritakannya dalam surat Ali Imran ayat 156 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: ‘Kalau mereka tetap besama sama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.”

Yang ketiga adalah pengandaian sebagai ungkapan penyesalan atas musibah yang menimpa. Pengandaian seperti ini juga dilarang, karena sesal itu mengakibatkan jiwa bertambah sedih dan apatis (putus asa). Misalnya, ketika kita membeli sesuatu dengan harapan akan memperoleh keuntungan. Tapi ternyata kita malah mendapat kerugian dari apa yang kita beli. Kemudian meluncurlah dari mulut kita : “Coba tadi nggak beli ini, pasti aku nggak bakal rugi.” (Nah.. lho! *self reminder*)

Adapun pengandaian yang keempat adalah pengandaiaj karena keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Bukan karena penyesalan atau protes terhadap takdir. Hukum dari pengandaian ini tergantung dari apa yang diangan-angankan. Jika yang diangankan adalah kebaikan maka akan bernilai pahala, adapun jika yang diinginkan adalah keburukan, maka akan bernilai dosa.

Dikisahkan dalam hadist, ada empat orang salah satunya berkata: “Andai aku memiliki harta tentu aku akan berbuat seperti dia (yaitu orang yg dikaruniai harta dan ilmu sehingga mempergunakannya sesuai syariat).” Ini adalah harapan yg baik. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Orang tadi dihukumi sesuai dengan niatnya, pahala keduanya sama.” Orang kedua berkata: “Andai aku memiliki harta tentu akan berbuat seperti dia (orang yang di karuniai harta tetapi tidak dikaruniai ilmu sehingga keliru menggunakan hartanya).” Ini adalah harapan yang jelek. Karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang tadi dihukumi sesuai dengan niatnya, dosa keduanya sama.”(HR. Ahmad).

Oleh karena itu mari kita move on dari andai-andai dan memperpanjang angan-angan dalam hidup kita. Berandai-andai cuma bikin semangat kita down dan apatis. Jikalau mendapati apa yang diinginkan tak sesuai dengan kenyataan tersenyumlah. Karena Allah telah memberikan yang terbaik untuk Anda.

Wallahu ta’ala a’lam

Sumber :

  • Kitab at-Tauhid, Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi
  • Al-Qoul al-Mufiid ‘alaa Kitab at-Tauhid, Muhammad bin Sholih bin Muhammad al-Utsaimin
  • Fathul Baari, Ibnu Hajar al-Asqalani

 

Ditulis oleh Imanulfa, Mahasiswi STIQ Isy Karima

BAGIKAN